Bidik Pertumbuhan Kredit Ritel 5 Persen, Bank Permata Gandeng AkuLaku

14 September 2021 14:47 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Muhamad Arfan Septiawan

Suasana pelayanan nasabah di salah satu kantor cabang milik Bank Permata, di Jakarta. Foto; Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Bank dengan total aset terbesar ke tujuh di Indonesia, PT Bank Permata Tbk (BNLI) menargetkan pertumbuhan kredit segmen ritel 5% year on year (yoy) pada 2021. Demi mencapai target itu, BNLI tercatat gencar melakukan kerja sama strategis dengan sejumlah mitra.

Direktur Retail Banking Djumariah Tenteram mengatakan target ini mencakup sub segmen konsumer dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Dalam menjangkau penyaluran, dirinya telah menggandeng salah satu e-commerce, yakni AkuLaku sebagai mitra penyalur kredit segmen konsumer.

“Dalam kondisi banyak mobilitas, kami mendekatkan diri dengan kerja sama strategis dengan memperluas skala bisnis,” ucap Djumariah dalam paparan publik virtual, Selasa, 14 September 2021.

Sub segmen konsumer ini juga bakal ditopang oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Djumariah mengklaim lini bisnis ini tengah difokuskan perseroan pada tahun ini.

Intervensi kebijakan berupa diskon Pajak Pertambahan Nilai (PPN) rumah baru diyakini menjadi katalisator pertumbuhan kredit segmen konsumer ini. Hingga semester I-2021, hasilnya tidak mengecewakan.

KPR Bank Permata mencatatkan pertumbuhan hingga 22% secara tahunan (year on yea/yoy). Capaian ini bakal terus dipacu hingga mencapai 23% pada akhir tahun ini.

“Khusus untuk KPR, kita bekerja sama dengan developer untuk pembelian dan pendanaan segmen ini,” ucap Djumariah.

Sementara itu, segmen UMKM digenjot Bank Permata melalui strategi pendanaan pembukaan waralaba. Dalam hal ini, Bank Permata telah menggandeng Indostastion.

“Kami bantu bagi pelaku UMKM yang ingin membuka usaha waralaba dengan Indostation. Strateginya dilakukan untuk mendukung dari wholesale-nya.” papar Djumariah.

Total aset Bank Permata mengalami peningkatan pesat 34,8% yoy menjadi Rp213 triliun pada semester I-2021 dari sebelumnya Rp158 triliun pada semester I-2021. Membengkaknya aset Bank Permata didorong oleh moncernya penyaluran kredit segmen wholesale banking.

Kredit Segmen Wholesale

Penyaluran kredit segmen wholesale banking Bank Permata merangkak naik dari Rp52,7 triliun pada semester I-2020 menjadi Rp73,7 triliun pada semester I-2021. Segmen ini berhasil menopang penyaluran kredit segmen retail yang menurun dari Rp48,4 triliun pada semester I-2020 menjadi Rp44,2 triliun pada semester I-2021.

Kualitas aset, yang tampak dari non performing loan (NPL) gross di emiten berkode BNLI ini juga terdorong membaik. Total NPL gross BNLI menurun 43 basis poin (bps) menjadi 3,3% dari sebelumnya 3,7% pada semester I-2020.

Perseroan memprediksi dampak pandemi COVID-19 masih akan terasa hingga 2023. Sehingga, Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) terus ditingkatkan perseroan menjadi 218%.

“Mengingat dampak pandemi yang dampaknya diperkirakan masih terjadi hingga 2023, kami terus tingkatkan pencadangan meski begitu, likuiditas kami tetap kuat,” kata Direktur Keuangan Bank Permata Lea Kusumawijaya dalam kesempatan yang sama.

Adapun penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Permata mengalami kenaikan 25% yoy menjadi Rp155,6 triliun. Lebih rinci, DPK itu didominasi dari dana murah atau CASA sebesar Rp80,3 triliun dan deposito Rp75,3 triliun.

Meski melebihi deposito, sejatinya komposisi CASA di Bank Permata melemah. Hal ini tampak dari rasio CASA yang parkir di level 51,5% pada semester I-2021 dari sebelumnya 52,1% pada semester I-2020.

Berita Terkait