Bidik Calon Investor SWF, Kemenves Teken Kerjasama dengan Kemlu

02 September 2021 04:00 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Rizky C. Septania

Menlu Retno LP Marsudi dan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menandatangani MoU untuk Tingkatkan Investasi secara virtual pada Selasa, 31 Agustus 2021. (Humas Kemlu)

JAKARTA -- Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menginisiasi kemitraan untuk memperluas jaringan bisnis dan investasi masa depan.

Kemitraan kedua lembaga tertuang dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tentang Pelaksanaan Diplomasi Ekonomi di Bidang Investasi pada akhir bulan lalu. Menlu Retno LP Marsudi dan Menves Bahlil Lahadalia menandatangani kontrak kerjasama itu secara virtual.

Retno mengatakan bahwa poin kunci dalam kemitraan tersebut adalah mendorong peluang bisnis dan investasi beyond business as usual untuk mempercepat pemulihan ekonomi di waktu mendatang.

Salah satunya adalah memanfaatkan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) untuk membidik mitra-mitra strategis dalam kerangka Sovereign Wealth Fund (SWF).

"Dalam kerangka inilah nota kesepahaman ini disusun sebagai landasan kuat untuk menjalin kerja sama dalam tiga tahun mendatang dan membangun hubungan antarkementerian yang agile, tanpa sekat birokrasi, dan result-oriented," katanya dalam keteragan resmi dikutip Rabu, 1 September 2021.

SWF adalah  kendaraan  finansial  yang dimiliki oleh negara untuk mengatur dana publik dan menginvestasikannya ke aset–aset yang luas dan beragam.

Dengan kata lain, SWF adalah tabungan negara, kelebihan dana yang dimiliki oleh negara yang diinvestasikan dengan tujuan untuk return yang lebih besar lagi.

Beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan sekaligus Ketua Dewan Pengawas SWF Sri Mulyani Indrawati menyebut pemerintah menargetkan INA mampu menarik total investasi sebesar Rp300 triliun.

Sementara, Presiden Joko Widodo menargetkan INA bisa mengelola dana hingga US$20 miliar setara Rp284,46 triliun.

Retno menambahkan terdapat beberapa peluang yang dapat dikejar bersama dalam waktu dekat dengan Kemenves.

Pertama, mendorong investasi di sektor kesehatan. Kedua, menarik investasi yang hijau dan ramah lingkungan dan terakhir membidik calon investor SWF.

"Di tengah badai pandemi ini, kita tidak bisa mengubah arah angin, tetapi kita bisa menyesuaikan layar kapal sehingga kita tetap dapat tiba di tujuan, yaitu Indonesia yang lebih maju," pungkasnya.

Sementara itu, Bahlil menekankan pentingnya kolaborasi yang intens dengan memaksimalkan peran perwakilan Indonesia di luar negeri dalam mempromosikan peluang investasi di Indonesia serta fasilitasi investor secara end-to-end.

Tahun depan, Bahlil menargetkan investasi mencapai Rp1.200 triliun, naik dari tahun ini sebesar Rp900 trilun. Peningkatan patokan investasi dilakukan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Untuk mencapai target itu, Kemenves mengusulkan anggaran tambahan ke Kemenkeu sebesar Rp600 miliar untuk tahun depan, sehingga total anggaran Kemenves menjadi Rp1,3 triliun.

Dia menyebut bahwa anggaran itu termasuk pagu indikatif sebesar Rp711,51 miliar. Pagu indikatif dialokasikan untuk dua segmen Kementerian Investasi, yaitu program dukungan manajemen sebesar Rp300,90 miliar dan program penanaman modal sebesar Rp410,61 miliar.

"Pemerintah (juga) terus mendorong reformasi perizinan berusaha. Salah satunya, dengan percepatan perizinan berusaha melalui Sistem Online Single Submission (OSS) Berbasis Risiko yang telah diluncurkan oleh Presiden RI Joko Widodo pada tanggal 9 Agustus 2021," imbuhnya.*

Berita Terkait