Biden: Tentara AS Tetap di Afghanistan hingga Semua Warganya Keluar

19 Agustus 2021 12:50 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Rizky C. Septania

Presiden AS, Joe Biden

JAKARTA -- Presiden Joe Biden menegaskan komitmennya untuk mengeluarkan semua warga Amerika Serikat dari Afghanistan pasca dikuasai kelompok Taliban. Sementara, pasukan AS akan tetap tinggal di sana hingga semua warga AS keluar dari negara itu.

Berbicara dalam sebuah wawancara eksklusif dengan George Stephanopoulos dari ABC News, Biden mengatakan dia masih mempertimbangkan misi penarikan pasukan AS dari Afghanistan melampaui batas waktu sebelumnya yaitu 31 Agustus 2021.

"Komitmennya adalah untuk membuat semua orang keluar bahwa, pada kenyataannya, kita bisa keluar dan semua orang yang harus keluar. Dan itulah tujuannya. Itulah yang kita lakukan sekarang. Itulah jalan yang sedang kita jalani. Dan saya pikir kita akan sampai di sana," kata Biden, dikutip Kamis, 19 Agustus 2021.

Biden mengatakan bahwa selain 10.000 hingga 15.000 orang Amerika yang perlu dievakuasi, ada antara 50.000 dan 65.000 warga Afghanistan dan keluarga AS mereka  juga ingin keluar dari negara itu.

Untuk mengeluarkan ribuan warganya sebelum akhir bulan, Biden mengatakan akan mengharuskan misi evakuasi yang sedang berlangsung berjalan lebih cepat.

Namun dia tidak bisa memastikan proses evakuasi berjalan lebih cepat, misalnya sampai dengan angka 7.000 per hari, sebelum tenggat waktu yang ditetapkan.

Biden sendiri mendapat kecaman atas kekacauan yang terjadi di Afghanistan ketika kendali negara itu dengan cepat jatuh ke tangan Taliban sementara batas waktu penarikan terakhir AS mendekat.

Perebutan kembali negara sangat cepat oleh Taliban dan diakui AS terjadi lebih cepat dari yang mereka duga, sehingga menyebabkan kekacauan di bandara Kabul.

Saat ini Taliban terus memblokir akses bagi sekutu Afghanistan yang putus asa yang membantu AS selama perang 20 tahun (sejak 2001). 

Seperti yang terlihat dari video yang beredar, warga sekutu Afghanistan berhamburan keluar dari negara itu karena takut akan pembalasan oleh Taliban.*

Berita Terkait