BI Raih Fasilitas Repo Line dari The Fed AS Hingga Rp984 Triliun

07 April 2020 20:11 WIB

Penulis: Khoirul Anam

Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed). / Pixabay

Bank Indonesia (BI) meraih fasilitas repurchase agreement atau repo line dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed) senilai US$60 miliar setara Rp984 triliun (kurs Rp16.410 per dolar AS).

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kesepakatan kerja sama repo line antara BI dan The Fed itu dapat digunakan apabila membutuhkan likuiditas dalam bentuk mata uang dolar AS.

“Kami harus sampaiakan bahwa repo ini bentuk kerja sama kalau BI memerlukan likuiditas dolar, ini bisa digunakan,” kata Perry Warjiyo dalam siaran langsung perkembangan BI melalui kanal YouTube di Jakarta, Selasa, 7 April 2020.

Menurut dia, The Fed melakukan kerja sama dengan sejumlah bank sentral yang dikategorikan dalam foreign and international monetary autoritiehies (FIMA), termasuk BI. Akan tetapi, BI belum berencana menggunakan fasilitas itu lantaran cadangan devisa masih lebih dari cukup senilai US$121 miliar.

Dia menambahkan, Cadev yang disimpan BI saat ini sebagian sudah dialokasikan dalam bentuk likuiditas demi stabilisasi rupiah. Sebagian Cadev lainnya berupa surat utang, obligasi, dan instrumen lain yang memberikan imbal hasil positif.

Jika BI memerlukan likuiditas dolar AS, maka sebagian Cadev berbentuk surat berharga dari AS dapat dipakai sebagai underlying untuk repo dengan The Fed. Kerja sama dengan The Fed itu, lanjutnya, menunjukkan kepercayaan bank sentral Negeri Paman Sam kepada Indonesia lantaran tak banyak emerging market yang memperoleh fasilitas itu.

Selain repo line, BI juga tengah membahas kerja sama swap line dengan The Fed. Namun, The Fed sudah banyak memberikan swap line kepada negara lain sehingga Indonesia mendapatkan fasilitas repo line.

Tidak hanya dari The Fed, Perry menyebutkan BI juga menjalin kerja sama repo lain dengan beberapa bank sentral, yakni Bank of International Settlement senilai US$2,5 miliar (Rp41 triliun) dan Monetary Authority of Singapore sebanyak US$3 miliar (Rp49,2 triliun.

Kalau dalam hal diperlukan, BI juga mempunyai kerja sama bilateral swap dengan sejumlah bank sentral sebagai second line of defense. Dengan bank sentral China kurang lebih setara dengan US$30 miliar (Rp492 triliun), dengan Jepang setara dengan US$22,76 miliar (Rp373 triliun), dengan Korea Selatan sekitar US$10 miliar (Rp16,4 triliun), dan dengan Singapura setara dengan US$7 miliar (Rp114 triliun) atau sekitar 10 miliar dolar Singapura.

“Dengan sejumlah bank-bank sentral di kawasan, jumlahnya, kurang lebih, sekitar US$500 juta sampai dengan US$1 miliar. Ini adalah langkah-langkah kalau diperlukan likuiditas dolar itu kami gunakan,” kata Perry. (SKO)

Berita Terkait