BI: Inflasi Rendah Saat COVID-19

Bank Indonesia memantau angka inflasi masih rendah di tengah pandemi wabah virus corona (COVID-19), yang artinya harga barang terkendali.

Gubernur BI Perry Warjiyo optimistis angka inflasi dapat dikendalikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Maret 2020 sebesar 0,1% month-on-month dan secara tahunan 2,96% year-on-year (yoy).

“Dampak dari COVID-19 dari tekanan permintaan itu rendah. Inflasi intinya itu rendah,” kata Perry Warjiyo dalam video konferensi tentang perkembangan ekonomi terkini di Jakarta, Kamis, 2 Maret 2020.

Perry juga menegaskan dalam kondisi pelemahan perekonomian lantaran pandemi COVID-19, pengaruh rupiah terhadap inflasi juga terbilang rendah.

“Kecenderungan dalam kondisi seperti ini, korporasi, pengusaha, dunia usaha, tidak akan mem-passthrough rupiahnya terhadap inflasi karena permintaan rendah. Apalagi harga komoditas turun lagi,” ujarnya.

Faktor lain yang membuat inflasi tetap terjaga rendah adalah ekspektasi inflasi dan kesediaan pasokan kebutuhan makanan di masyarakat.

BI bersama pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencegah dampak terburuk akibat wabah COVID-19 baik di sektor kesehatan hingga perekonomian, salah satunya melalui stimulus fiskal.

“Kami terus berupaya agar pertumbuhan ekonomi tidak jatuh di bawah 2,3% dengan langkah stimulus fiskal dan nanti berkaitan dengan fungsi bank sentral, OJK dan LPS,” kata Perry.

Sebelumnya, lanjut dia, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 19 Maret 2020, skenario moderat dari COVID-19 ini yakni untuk pertumbuhan ekonomi RI diproyeksi sebesar 4,2%. Sedangkan terkait situasi pandemik global virus Corona ini, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi RI minimal atau di atas 2,3% dengan stimulus fiskal yang diberikan pemerintah.

Begitu juga dengan nilai tukar rupiah, kata dia, jika seandainya tidak melakukan langkah bersama, skenario berat mencapai Rp17.000 per dolar AS atau Rp20.000 per dolar AS dalam skenario sangat berat.

“Itu adalah what if scenario, jika tidak melakukan langkah bersama,” kata Perry. Nilai tukar itu juga bukan proyeksi, tambahnya.

Namun dengan upaya stabilisasi di sektor keuangan dan nilai tukar rupiah, ia meyakini rupiah akan bergerak stabil dan cenderung menguat hingga mengarah ke level Rp15.000 per dolar AS akhir tahun 2020.

Selain melakukan realokasi anggaran, pemerintah sebelumnya juga menambah anggaran untuk pembiayaan penanganan COVID-19 mulai aspek kesehatan, pemulihan ekonomi hingga jaminan sosial dengan memperlebar defisit fiskal mencapai 5,07% dari produk domestik bruto (PDB). Total anggaran untuk membiayai penanganan COVID-19 ini adalah Rp405,1 triliun. (SKO)

Tags:
Bank IndonesiaCoronapastiberlaluCovid-19ekonomi nasionalinflasiPerry Warjiyo
%d blogger menyukai ini: