BI: Harga Emas Tahan Biang Kerok IHK Juli 2020 Deflasi 0,1%

04 Agustus 2020 14:54 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Karyawan menunjukkan logam mulia di Butik Emas Antam, Jakarta, Kamis, 23 Juli 2020. Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) pada hari ini, Kamis 23 Juli 2020 dipatok lebih rendah untuk ukuran 1 gram dibanderol Rp977.000, sedangkan pada posisi kemarin, Rabu 22 Juli 2020 sempat menyentuh level baru Rp982.000 untuk ukuran 1 gram, yang merupakan level tertinggi sepanjang sejarah.  PT Aneka Tambang Tbk. melansir penjualan emas di tingkat ritel tetap menggeliat kendati harga emas menyentuh rekor baru. Penjualan secara daring atau online diakui meningkat signifikan dalam tiga bulan terakhir. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) Juli 2020 mengalami deflasi 0,1% secara bulanan (month-to-month/mtm) setelah bulan sebelumnya inflasi 0,18%. Padahal sebelumnya BI memprediksi Juli 2020 bakal inflasi 0,04%.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan penyebab deflasi dipengaruhi oleh inflasi kelompok inti yang tetap rendah serta deflasi pada kelompok volatile food serta administrated prices.

“Secara tahunan, inflasi IHK Juli 2020 tercatat sebesar 1,54% year-on-year (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,96%,” kata dia dalam keterangan resmi, Selasa, 4 Agustus 2020.

Dia menjelaskan, ke depan, BI bakal terus konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah pusat dan daerah. Terutama, untuk mengendalikan inflasi tetap rendah dan terkendali dalam sasarannya sebesar 3% plus minus 1% pada 2020.

Harga Emas Melambung

Sementara itu, inflasi inti pada Juli 2020 tercatat tetap rendah yakni 0,16% mtm. Meskipun memang diakuinya angka inflasi itu meningkat dibandingkan dengan perkembangan bulan sebelumnya sebesar 0,02% mtm akibat kenaikan harga emas.

Inflasi inti yang rendah tergambar pada beberapa komoditas seperti gula pasir, kopi bubuk, dan bawang bombay yang masing-masing tercatat deflasi 4,23%, 0,36%, dan 5,05% mtm.

“Sementara itu, inflasi emas tercatat naik dari deflasi 1,18% mtm menjadi 5,02% mtm sejalan dengan kenaikan harga emas dunia,” jelasnya.

Secara tahunan, inflasi inti tercatat 2,07% yoy, melambat dibandingkan dengan inflasi Juni 2020 sebesar 2,26% yoy. Inflasi inti yang terjaga rendah tidak terlepas dari pengaruh perlambatan permintaan domestik akibat pandemi COVID-19, konsistensi kebijakan BI dalam mengarahkan ekspektasi inflasi, harga komoditas global di luar emas yang tetap rendah, dan stabilitas nilai tukar yang terjaga.

Kelompok volatile food mencatat deflasi 1,19% mtm pada Juli 2020, menurun dibandingkan dengan perkembangan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,77% mtm. Deflasi kelompok volatile food terutama dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas pangan seperti aneka bawang, daging ayam ras, dan beras.

“Perkembangan ini juga sejalan permintaan domestik yang melambat serta pasokan yang memadai didukung dampak panen, distribusi di berbagai daerah yang terjaga, dan harga komoditas pangan global yang rendah,” kata dia.

Dengan perkembangan ini, sambungnya, inflasi kelompok volatile food secara tahunan tercatat 0,35% yoy. Angka itu lebih rendah dari inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 2,32% yoy.

Kelompok administered prices mengalami deflasi 0,07% mtm pada Juli 2020, setelah pada bulan sebelumnya mencatat inflasi sebesar 0,22% mtm. Deflasi tersebut terutama akibat menurunnya tarif angkutan udara sejalan penerapan strategi penurunan harga tiket oleh maskapai.

Sementara itu, tarif angkutan antarkota dan kendaraan roda empat daring, serta harga jual aneka rokok mengalami peningkatan. Secara tahunan, inflasi kelompok administered prices tercatat sebesar 0,70% yoy pada Juli 2020. Angka itu lebih tinggi dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,52% yoy. (SKO)

Berita Terkait