BI Diprediksi Tahan Suku Bunga, Apa Dampaknya ke Pasar Modal?

23 Juni 2022 13:20 WIB

Penulis: Merina

Editor: Ananda Astri Dianka

Karyawan beraktivitas di dekat layar monitor pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu, 6 April 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA- Bank Indonesia (BI) tengah bersiap menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 23 - 24 Juni 2022 ini. 

Pasar berspekulasi bahwa BI akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5%. Direktur Anugrah Mega Investama, Hans Kwee mengungkapkan, indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi tertekan sebagai respons putusan BI.

"Memang saham kita cukup kuat, karena ritel investor masih banyak asing masih bergerak masuk ya biarpun kadang-kadang ada net sell. Tapi mereka tidak terlihat keluar dari pasar secara agresif kecuali pasca lebaran itu mereka keluar cukup banyak tetapi secara umum pasti tidak  agresif," kata Hans kepada TrenAsia Kamis, 23 Juni 2022.

Meskipun dinilai masih cukup kuat, Hans mengatakan IHSG berpotensi tertekan antara 6.800-an dan masih dibawah level 7.000 hingga awal Juli. Hal ini disebabkan oleh inflasi, turunnya ekonomi global, dan kenaikan suku bunga The Fed.

"Kenaikan bunga BI past pasti berdampak negatif. Tetapi utamanya bukan dari itu karena bunga BI relatif tidak terlalu tinggi. Penyebab utamanya adalah agresivitas The Fed dan inflasi," tambah Hans.

Hans mengimbau kepada para pelaku pasar untuk tidak melakukan pembelian secara agresif dalam beberapa hari ini. Menurutnya, lebih baik para investor melakukan buy on weakness pada saat IHSG terkoreksi akibat suku bunga The Fed yang diprediksi terjadi pada awal Juli.

Hans meyakini BI berpotensi menaikan suku bunga 50 bps-75 bps pada sisa tahun 2022 pada beberapa edisi, guna mengimbangi inflasi yang terjadi.

"Inflasi tahun ini diperkirakan di angka 4,2 persen. Jadi, kemungkinan BI bisa menaikkan 50 sampai 75 bps untuk mengimbangi suku bunga," tutup Hans.

Berita Terkait