BI Agresif Naikkan Suku Bunga, Apindo: Dunia Usaha Tertekan

23 September 2022 15:32 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Ananda Astri Dianka

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2022 mencapai 5,44 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).Minggu 7 Agustus 2022. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) kebijakan hasil Rapat Dewan Gubernur (Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) sebesar 50 basis poin menjadi 4,25% memiliki sejumlah konsekuensi.

Seperti misalnya mengurangi likuiditas dan menurunkan daya beli masyarakat. Ketua Komite Analis Kebijakan Ekonomi Apindo, Ajib Hamdani, menilai langkah pemerintah sudah cukup tepat untuk jangka pendek dengan mendorong program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diambilkan dari alokasi dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“Yang perlu dikritisi dalam kebijakan moneter ini adalah dengan efek disinsentif dalam ekonomi,” kata Ajib dalam keterangan resmi, Jumat 23 September 2022.

Ajib menerangkan, pemerintah secara agresif melakukan penyelamatan fiskal dengan banyak disinsentif ke dunia usaha. Selanjutnya pemerintah kembali membuat kebijakan dari sisi moneter yang membuat dunia usaha kembali mengalami tekanan, dengan potensi melemahnya konsumsi. 

Ia menilai, pemerintah seharusnya lebih fokus dengan pemberian insentif agar terjadi pengurangan biaya-biaya dan kemudahan produksi sehingga efek inflasinya tetap bisa terjaga. Misalnya kebijakan relaksasi kredit untuk dunia usaha yang kembali diperpanjang karena narasi besar atas potensi inflasi. 

“Dengan pola pembiayaan yang lebih terukur dan managable, dunia usaha akan mempunyai fleksibilitas.”

Sebagai informasi, kenaikan suku bunga ini merupakan kebijakan kedua yang dilakukan oleh BI dalam rentang tahun ini, setelah pada 23 Agustus sebelumnya menaikkan 25 basis poin.

Upaya ini dalam rangka termasuk untuk mengimbangi langkah Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin.

Langkah kebijakan moneter ini diambil oleh pemerintah dalam rangka menjaga laju inflasi yang terus merangkak naik. Kuartal kedua tahun 2022, inflasi pada bulan Juli menunjukkan angka 4,94% year to year (yoy). Jauh dari asumsi makro awal penyusunan APBN 2022 yang ditarget hanya kisaran 3% secara agregat di tahun 2022.
 

Berita Terkait