BI: 69,5% UMKM Belum Terima Fasilitas Kredit, Butuh Rp1.605 Triliun

03 September 2021 20:06 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Amirudin Zuhri

Pengrajin menyelesaikan pembuatan miniatur gerbong kereta api di kiosnya di kawasan Manggarai, Rabu, 1 September 2021 ( Ismail Pohan/TrenAsia)

JAKARTA - Kepala Dapartemen Kebijakan Makropudensial Bank Indonesia (BI) Juda Agung mengungkapkan bahwa jumlah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang membutuhkan fasilitas kredit mencapai 69,5%. Potensi kebutuhan kredit untuk UMKM tersebut mencapai Rp1.605 triliun.

"Total kredit UMKM sekitar Rp1.135 triliun atau 20,51% dari rasio kredit UMKM. UMKM yang belum menerima kredit 69,5%," ujarnya dalam Taklimat Media mengenai Peraturan Bank Indonesia tentang Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM), Jumat, 3 September 2021.

Dia menjelaskan bahwa dari jumlah 69,5% tersebut, sekitar 43,1% UMKM membutuhkan kredit perbankan, sedangkan 26,4% tidak membutuhkan fasilitas pembiayaan. Dari 43,1% UMKM yang membutuhkan kredit potensinya demand-nya mencapai Rp1.605 triliun, atau sekitar 45,74% dari total kredit.

Estimasi kredit tersebut terbagi ke dalam tiga segmen, yaitu usaha mikro sebesar Rp331 triliun, usaha kecil Rp534 triliun dan usaha menengah sebesar Rp740 triliun.

Sementara itu, untuk UMKM yang telah menerima fasilitas pembiayaan baik dari perbankan maupun non bank baru mencapai 30,5%.

Juda menambahkan, pada Juli 2021, kredit UMKM mengalami pertumbuhan sebesar 1,93%, lebih besar dibandingkan periode tahun lalu 1,23%.

“Dari potensi demand, makanya kredit sudah positif 1,93% pada Juli 2021,” ucapnya.

Dia menegaskan bahwa UMKM sangat berperan penting dalam menjaga gairah ekonomi nasional, terutama di masa pandemi COVID-19. UMKM dengan cepat menyesuaikan diri dengan situasi krisis sehingga dapat mempercepat pemulhian.

"Dengan tingkat penyerapan tenaga kerja yang tinggi serta pangsa yang besar terhadap PDB, UMKM menjadi kunci dalama pemulihan ekonomi nasional," katanya.*

Berita Terkait