BHIT Milik Hary Tanoe Cari Dana Rights Issue Lebih dari Rp2,1 Triliun

04 Juli 2021 17:59 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Konglomerat pemilik MNC Group Hary Tanoesoedibjo / Mediacom.co.id

JAKARTA – Perusahaan induk MNC Group milik konglomerat Hary Tanoesoedibjo, PT MNC Investama Tbk (BHIT) akan melakukan penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 12.952.851.616 lembar saham senilai Rp100.

Pada perdagangan akhir pekan, Jumat, 2 Juli 2021, saham BHIT ditutup menguat 1,19% ke level Rp85 per lembar. Kapitalisasi pasar saham BHIT mencapai Rp6,27 triliun dengan imbal hasil 70% dalam setahun terakhir.

Jika diasumsikan harga eksekusi rights issue Rp85 per lembar, maka emiten milik Hary Tanoe ini akan mengantongi dana setidaknya Rp1,1 triliun. Untuk melakukan aksi korporasi tersebut, perseroan akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 6 Juli 2021.

“Adapun seluruh dana yang diperoleh, setelah dikurangi dengan biaya-biaya terkait bakal digunakan untuk mengonversi sebagian Obligasi Bersifat Senior perseroan menjadi saham, yakni sebesar US$148,7 juta atau setara dengan Rp2,1 triliun. Sementara itu, sisanya akan digunakan sebagai modal kerja,” mengutip prospektus ringkas dalam keterbukaan informasi di PT Bursa Efek Indonesia, Minggu, 4 Juli 2021.

Selain aksi korporasi tersebut, perseroan juga akan melakukan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) alias private placement. Jumlah saham yang diterbitkan sebanyak-banyaknya 778.042.132 lembar, dengan nilai nominal Rp100 per lembar.

Jumlah ini juga sama dengan 1,15% dari seluruh saham yang telah disetor penuh dalam perseroan, yakni 67.767.400.934 saham. Dengan asumsi eksekusi pada harga yang sama Rp85 per lembar, maka BHIT akan mengantongi dana Rp66,13 miliar dari program MESOP.

Manajemen meyakini, aksi korporasi tersebut akan memberikan manfaat terhadap cadangan peningkatan modal kerja perseroan. Adapun hingga saat ini, disebutkan belum terdapat calon pemodal yang akan melaksanakan PMTHMETD.

“Seluruh saham baru akan ditawarkan kepada semua pemegang saham dan masyarakat,” tulis manajemen.

Dengan adanya sejumlah saham baru yang diterbitkan baik melalui HMETD dan PMTHMETD, akan berdampak pada penurunan atau dilusi kepemilikan saham secara proporsional sesuai dengan jumlah saham baru yang diterbitkan, yaitu sebanyak-banyaknya 15,38% setelah rights issue melalui HMETD dan 16,16% setelah HMETD dan PMTHMETD.

Sementara itu, dilusi yang terjadi atas PMTHMETD terhadap jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh yaitu sebesar 1.15%.

Sebagai informasi, per 31 Mei 2021 pemegang saham BHIT antara lain HT Investment Development Ltd sebesar 18,58%, DBS Bank Ltd S/A Caravaggio Holdings Lmited sebesar 11,68%, DBS Bank Ltd S/A New Ascend Limited sebesar 9,65%, PT Bhakti Panjiwira sebesar 7,39%, dan masyarakat (di bawah 5%) sebesar 52,7%.

Obligasi Konversi

Konglomerat MNC Grup Hary Tanoesoedibjo dengan investor saham Lo Kheng Hong. / Istimewa

Pada 11 Mei 2018, perseroan menerbitkan Obligasi Bersifat Senior sebesar US$231 juta. Obligasi Bersifat Senior ini ditawarkan pada 100% dari nilai nominal dengan tingkat bunga tetap 9% per tahun. Obligasi Bersifat Senior berjangka waktu 3 tahun dan telah jatuh tempo pada tanggal 11 Mei 2021.

Kemudian pada 9 November 2020, perseroan telah menyampaikan Skema Exchange Offer kepada seluruh Pemegang Obligasi Bersifat Senior melalui Pengadilan Tinggi Singapura. Selanjutnya, pada 29 Januari 2021, Pengadilan Tinggi Singapura telah menyetujui Skema Exchange Offer yang diajukan oleh perseroan.

Semua Pemegang Obligasi Bersifat Senior memiliki opsi untuk menukarkan Obligasi Bersifat Senior dengan sejumlah ketentuan.

Saham baru perseroan dengan nilai tukar 8.267.052 saham per US$100.000 dari jumlah pokok Obligasi Bersifat Senior (setara dengan harga konversi Rp173 per saham dengan menggunakan nilai tukar Rp14.302 per dolar AS), atau Obligasi Baru yang diterbitkan oleh perseroan dengan nilai tukar US$100.000 jumlah pokok Obligasi Baru untuk setiap US$100.000 jumlah pokok Obligasi Bersifat Senior.

Obligasi Baru menawarkan kupon tetap 1% per tahun, ditambah dengan kupon variabel yang ditentukan berdasarkan jumlah dividen tunai yang diterima perseroan dari PT Global Mediacom Tbk (BMTR) dan PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP). Obligasi Baru ini memiliki jangka waktu lima tahun.

Batas waktu untuk memilih Saham Baru Perseroan dan Obligasi Baru masing-masing adalah 5 April 2021 dan 4 Agustus 2021. Perseroan wajib mengkonversi Obligasi Bersifat Senior menjadi Saham Baru perseroan dan Obligasi Baru dengan batas waktu sampai dengan 4 Februari 2022.

Per 5 April 2021, Pemegang Obligasi Bersifat Senior yang memilih Saham Baru perseroan adalah sebanyak US$148.735.000.

Selain persetujuan dari RUPS, tidak diperlukan persetujuan dari kreditur atau pihak lain sehubungan dengan rencana konversi Obligasi Bersifat Senior

Belanja Modal

Konglomerat Hary Tanoesoedibjo dan Liliana Tanoesoedibjo, pemilik MNC Group. / Mncgroup.com

MNC Investama menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$80 juta, atau Rp1,16 triliun (kurs Rp14.564 per dolar AS). Rincannya sekitar US$60 juta dialokasikan untuk belanja modal lini bisnis media.

Capex kita pisahkan. Untuk media, kami prediksikan capex yang akan kami anggarkan sekitar US$60 juta. Itu untuk MNCN maupun MVN,” ujar Direktur Utama BHIT, Darma Putra dalam paparan publik belum lama ini.

Sementara sisanya sekitar US$20 juta akan dialokasikan untuk lini bisnis jasa keuangan. Hal ini merujuk pada upaya Perseroan untuk meningkatkan kapabilitas bisnis jasa keuangan menuju digitalisasi.

“Untuk financial services kita anggarkan sekitar US$20 juta untuk tingkatkan kapabilitas dari digital bisnis kita di financial services,” kata Darma.

Sepanjang 2020, Perseroan mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp14,8 triliun. Sedangkan laba bersih konsolidasi Perseroan tercatat sebesar Rp1.526 dengan laba bersih yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp151 miliar.

Kontribusi pendapatan terbesar dibukukan oleh sektor media sebesar Rp12,06 triliun atau mewakili 81,54% dari total pendapatan konsolidasi perseroan.

Selain itu, pendapatan dari sektor jasa keuangan tercatat sebesar Rp2,6 triliun atau mewakili 17,57% dari total pendapatan konsolidasi. Sedangkan kontribusi pendapatan sebesar 0,89% berasal dari investasi lainnya. (SKO)

Berita Terkait