Bertempur di Perang Ukraina, Ini Kekurangan dan Kelebihan MiG-29 Fulcrum

11 April 2022 17:08 WIB

Penulis: Amirudin Zuhri

(null)

JAKARTA-Medan perang Ukraina masih menuntut kerja keras MiG-29. Mereka digunakan di kedua sisi baik Rusia maupun Ukraina. Fulcrum harus diakui sebagai salah satu jet tempur legendaris yang pernah dibangun.

Diciptakan untuk mengisi kesenjangan teknologi antara Rusia dan Amerika,   MiG-29 telah menjadi salah satu pesawat tempur mutakhir terakhir yang diproduksi oleh Uni Soviet saat itu.

Fulcrum dijual dalam jumlah besar kepada eks angkatan udara Pakta Warsawa untuk menggantikan MiG-23 Flogger  yang sudah tua. Sebanyak 24  di antaranya juga dikirim ke Jerman Timur.  Jagdgeschwader (JG) 3 Jerman Timur menerima pengiriman MiG-29 pertamanya pada tahun 1988. Hingga  4 Oktober 1990, Wing mengoperasikan dua skuadron dengan 24 Fulcrum .

Batch lanjutan sedang dipesan, tetapi pesawat tidak pernah dikirim. Setelah berakhirnya Perang Dingin dan setelah penyatuan kembali Jerman, Luftwaffe atau angkatan udara Jerman mewarisi beberapa jet-jet tempur ini. Mereka kemudian dibuat sebisa mungkin untuk kompatibel dengan NATO.

Di antara pilot yang mengumpulkan pengalaman di  Angkatan udara Jerman yang menerbangkan MiG-29 adalah Letnan Kolonel Johann Koeck. Setelah sebelumnya  menerbangkan F-4 Phantom, dia kemudian diangkat menjadi  komandan satu-satunya skuadron MiG-29 Jerman.

Dalam buku How to fly and fight in the MiG-29 yang ditulis Jon Lake dia mengisahkan pengalamannya menerbangkan fulcrum.

Dua mengatakan pada 25 Juli 1991 keputusan diambil untuk mempertahankan pesawat dan  mengintegrasikannya ke dalam struktur pertahanan udara NATO. 

Sebagai pilot Fulcrum  berpengalaman, Koeck dapat membedakan mana yang menjadi titik lemah dan kekuatan MiG-29.

Bahan Bakar

Keterbatasan yang paling jelas dari MiG-29 adalah kapasitas bahan bakar internal pesawat yang terbatas yakni sebesar 3.500 kg. Jumlah ini meningkat menjadi  4.400 kg jika menggunakan tangka eksternal yang dipasang di bawah pesawat. MiG-29 tidak memiliki kemampuan pengisian bahan bakar udara-ke-udara, dan tangki eksternalnya akan sangat mempengaruhi  kecepatan dan manuvernya.

Jika katakanlah misi dimulai dengan membawa 4400 kg bahan bakar maka  start-up, taksi dan lepas landas membutuhkan 400 kg. Sementara  1.000 kg harus disisakan  untuk pengalihan ke lapangan terbang alternatif yang berjarak sekitar 100 km jika terjadi masalah di udara.

Sementara  500 kg digunakan untuk pertempuran, termasuk satu menit di afterburner. Ini menyisakan 2.500 kg bahan bakar.

Koeck menjelaskan bahwa  Jika membutuhkan 15 menit di wilayah operasi dengan kecepatan 420 knot itu membutuhkan 1000 kg lagi. Itu artinya  menyisakan 1500 kg bahan bakar untuk transit. Terbang pada ketinggian 20.000 kaki bahan bakar itu memberi radius sekitar 280 km , dan pada ketinggian 10.000 kaki 185 km.

Jangkauan terbatas Fulcrum juga mengkondisikan bagaimana pesawat dapat melakukan misi tertentu. Pada kenyataannya MiG-29 tidak memiliki jangkauan untuk melakukan misi serangan HVAA (High Value Airborne Asset), dan mereka secara efektif dibatasi untuk melintasi FLOT atau (Front Line of Own Troops) alias melintasi garis depan pasukan sendiri. Keterbatasan jangkauan  ini  membuat MiG-29 keluar dari misi pertahanan udara yang berarti.

Radar

Keterbatasan lain dari pesawat adalah radarnya. Seperti yang dijelaskan Koeck radar Fulcrum setidaknya satu generasi di belakang AN/APG-65.

Radar juga memiliki tampilan yang buruk, memberikan kesadaran situasional yang buruk. Ini  diperparah oleh ergonomi kokpit. Radar memiliki masalah keandalan  dalam lookdown/shootdown. Ini menjadikan pesawat memiliki  diskriminasi  buruk antara target yang terbang dalam formasi. Dan terlebih lagi  tidak bisa mengunci target di jejak, hanya di depan.

Karena keterbatasan ini, integrasi MiG-29 di lingkungan NATO  sangat sulit dan terbatas hanya pada beberapa peran. Pesawat lebih banyak digunakan sebagai aggressor, untuk pertahanan titik, dan sebagai wing  tetapi tidak memimpin.

Namun sistem onboard masih terlalu terbatas, terutama radar, radar warning receiver, dan sistem navigasi. Pembatasan ini membawa beberapa masalah yang dihadapi pilot Fulcrum dalam skenario taktis, seperti penyajian informasi radar yang buruk, jangkauan senjata BVR yang pendek dan sistem navigasi yang buruk.

Petarung sempurna

Namun terlepas dari semua keterbatasan ini,  Fulcrum tetap petarung yang sempurna untuk terbang. Berkat  aerodinamisnya yang luar biasa dan penglihatan yang dipasang di helm, MiG-29 adalah pesawat tempur yang luar biasa untuk pertempuran jarak dekat. Bahkan  dibandingkan dengan pesawat seperti F-15, F-16 dan F/A-18.

Seperti yang dikatakan Koeck dalam  jarak sepuluh mil laut dia akan sulit dikalahkan. Dan  dengan IRST, penglihatan helm dan  rudal R-73 dia  tidak dapat dikalahkan. Bahkan melawan F-16 Block 50 terbaru, MiG-29 hampir kebal dalam skenario pertarungan jarak dekat. 

Dia mengatakan  pada suatu kesempatan  F-16 memang mencetak beberapa kill, Tetapi itu setelah  setelah mereka setidaknya terkunci  18 kali oleh R-73. Keberhasilan F-16 datang setelah mereka memutuskan untuk menggunakan rudal jarak jauh.

Terlebih lagi dengan kecepatan putar seketika 28 derajat/detik  dibandingkan dengan F-16 Blok 50 yang 26 derajat,   MiG-29 dapat mengungguli mereka. Pada  kenyataannya Fulcrum mempertahankan keunggulan atas musuh-musuhnya berkat kelincahannya yang tak tertandingi. Dan ini  dicapai dengan menggabungkan aerodinamis canggih dengan sistem kontrol mekanis kuno.

Setelah salah satu Fulcrum Jerman dijual untuk evaluasi ke Amerika  pada tahun 1991, 22 MiG-29 yang tersisa bertugas hingga tahun 2003. Mereka kemudian dijual ke Angkatan Udara Polandia dengan harga simbolis masing-masing 1 Euro.

Mig-29 eks Jerman itu kemudian ditingkatkan dan mereka saat ini mendapat tugas dalam misi pengawasan udara  Baltik melawan ancaman Rusia di Eropa utara.

Berita Terkait