Bertahan Saat Resesi, Simak Lima Prioritas Ini

November 19, 2020, 11:30 AM UTC

Penulis: Aprilia Ciptaning

Lanskap pemukiman dan gedung pencakar langit diambil dari kawasan Grogol, Jakarta, Kamis, 5 November 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Kontraksi dua kuartal berturut-turut membuat ekonomi Indonesia resmi resesi. Meski tak sedalam kuartal kedua, ekonomi kuartal III-2020 tercatat masih di zona negatif, yakni minus 3,49% dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal III-2019.

Prita Hapsari Ghozie selaku CEO ZAP Financial menjelaskan, ada lima hal yang harus diperhatikan di masa resesi.

Pertama adalah earning power, bagaimana mengelola efek resesi terhadap penghasilan dan pendapatan. Kemudian selanjutnya, yakni pengecekan kondisi dana darurat, asuransi kesehatan, serta persiapan dana pendidikan anak dan pensiun.

“Di masa resesi, prioritasnya adalah saving, investing, dan protection,” kata Prita dalam sebuah webminar, Rabu, 18 November 2020.

Ia menjelaskan, untuk tabungan harus dibedakan dari dana darurat. Tabungan yang dimaksud, yakni lebih kepada pengumpulan uang untuk suatu tujuan, sedangkan dana darurat lebih bersifat pencadangan. Adapun jumlah dana darurat yang ideal di masa resesi, kata dia, sebanyak 12 kali pengeluaran rutin bulanan.

Kemudian investasi, erat kaitannya dengan profil risiko dengan beberapa instrument, seperti tabungan, deposito, reksadana dan saham. Proteksi ini bertujuan untuk melindungi pendapatan pencari nafkah.

Sementara itu, terkait proteksi asuransi harus disesuaikan dengan kemampuan finansial dan pemahaman mengenai produk asuransi.

Menurut Prita, Sukuk Tabungan seri ST007 bisa menjadi alternatif instrumen investasi di masa pandemi.

“Ketika ingin membeli Sukuk Tabungan seri ST007, diusahakan dana sudah dialokasikan sampai dua tahun ke depan,” katanya.

Investasi ini dianggap memiliki kelebihan berupa tidak adanya risiko gagal bayar karena dijamin undang-undang. Selain itu, ST007 mempunyai sifat floating the floor alias return mengikuti suku bunga acuan.