Berkat Vaksin Booster, Pfizer dan Moderna Raup Untung Belasan Triliun Rupiah

15 Agustus 2021 21:10 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Laila Ramdhini

Ilustrasi vaksin Pfizer.

JAKARTA – Produsen vaksin mRNA seperti Pfizer dan Moderna dapat meraup pendapatan hingga miliaran dolar Amerika Serikat atau sekitar belasan triliun rupiah dari vaksin tambahan atau booster untuk COVID-19. 

Pfizer-BioNTech dan Moderna telah meraup hingga US$60 miliar untuk pengadaan vaksin COVID-19 pada 2021 dan 2022. Perjanjian jual beli ini termasuk mengadakan dua dosis vaksin dan kemungkinan tambahan vaksin booster untuk negara-negara maju.

Selanjutnya, analis memperkirakan pendapatan hingga US$6,6 miliar untuk Pfizer-BioNTech dan US$7,6 miliar untuk Moderna pada 2023, terutama didapat dari penjualan vaksin booster. 

Mereka melihat nantinya pasar akan menetapkan pendapatan US$5 miliar atau lebih tinggi, dengan kemungkinan perusahaan farmasi lain ikut terlibat.

Dalam beberapa bulan terakhir ini, perusahaan-perusahaan farmasi tersebut menekankan pentingnya booster untuk orang-orang yang sudah divaksinasi lengkap untuk COVID-19. Booster ini penting untuk menjaga perlindungan jangka panjang dan terhadap varian COVID-19 yang baru.

Sekarang daftar pemerintah yang menawarkan dosis vaksin ketiga untuk melawan varian Delta terus bertambah, termasuk Chile, Jerman, dan Israel. Vaksin ketiga ini ditawarkan untuk masyarakat lanjut usia (lansia) dan yang memiliki sistem imun yang lemah.

Pada Kamis lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah memberikan izin untuk dosis vaksin booster buatan Pfizer dan Moderna kepada orang-orang dengan sistem imun yang lemah.

Pfizer dan Moderna menemukan bukti keampuhan antibodi dari vaksin akan berkurang dalam enam bulan hingga membutuhkan vaksin tambahan. Selain itu, adanya varian Delta juga membuat kebutuhan vaksin booster semakin mendesak.

Presiden Moderna Stephen Hoge mengatakan belum bisa memastikan bagaimana keadaan pasar penjualan vaksinasi selanjutnya. 

“Kami akan melihat mana saja populasi yang berisiko, nilai apa yang kita buat, dan berapa jumlah produk yang menyesuaikan nilai tersebut. Hal-hal tersebut tentu berdampak terhadap harga vaksin,” ujar Stephen dikutip dari Reuters, Minggu, 15 Agustus 2021.

Sampai saat ini, masih belum jelas juga berapa banyak orang yang butuh booster vaksin dan seberapa sering. Potensi keutungan dari vaksin booster juga bergantung dengan berapa kompetitor yang ikut terlibat dalam pasar vaksinasi.

Ditambah lagi, beberapa peneliti juga mempertanyakan seberapa genting kebutuhan vaksin booster yang dibutuhkan, terutama untuk orang-orang sehat dan masih muda. WHO juga meminta pemerintah untuk menahan pemberian vaksin ketiga ketika masih banyak negara yang masih kekurangan stok vaksinasi.

Berita Terkait