Berkat Suntikan IMF, Cadangan Devisa RI Pecah Rekor Jadi Rp2,05 Kuadriliun

07 September 2021 13:02 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat sore, 24 Juli 2020, ditutup melemah seiring kekhawatiran ancaman resesi ekonomi Indonesia. / Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Cadangan devisa Indonesia mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Agustus 2021. Bank Indonesia (BI) melaporkan nilai cadangan devisa Indonesia Agustus 2021 menembus US$144,8 miliar atau setara Rp2.05 kuadriliun (Asumsi kurs Rp14.204,25 per dolar Amerika Serikat).

Cadangan devisa Indonesia mengalami lonjakan sebesar US$7,5 miliar jika dibandingkan posisi Juli 2021 yang sebesar US$137,3 miliar. Di balik raihan rekor cadangan devisa ini, rupanya ada suntikan dari Dana Moneter Internasional atau IMF.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan cadangan devisa pada Agustus 2021 mengalami lonjakan akibat adanya tambahan alokasi special drawing rights (SDR) dari IMF.

Alokasi yang disuntik IMF tersebut mencapai 4,4 miliar XDR yang setara US$6,31 miliar atau 84,13% dari tambahan cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2021.  Untuk diketahui, XDR merupakan instrumen keuangan yang diberikan IMF untuk mendukung stabilitas ekonomi global.

Suntikan ini diberikan IMF sebagai upaya pemulihan ekonomi akibat pandemi COVID-19. Dalam menjaga stabilitas kurs mata uang, IMF menggunakan satuan hitung berupa XDR.

“Alokasi SDR tersebut didistribusikan kepada negara-negara anggota IMF tanpa biaya,” kata Erwin dalam keterangan tertulis, Selasa, 7 September 2021.

Cadangan devisa per Agustus 2021 ini setara dengan pembiayaan 9,1 bulan impor atau 8,7 bulan impor dan pembiayaan utang luar negeri pemerintah (ULN). Cadangan ini melebihi standar internasional, yakni minimum pembayaran 3 bulan impor.

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” tegas Erwin.

Erwin menyatakan cadangan ini menjadi alokasi dana untuk memperkuat stabilitas ekonomi. Terlebih, Indonesia tengah menjalani masa awal setelah lepas dari resesi ekonomi.

Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam mendorong pemulihan ekonomi," ujar Erwin.

Berita Terkait