Berkah Ramadan, Penjualan Ritel Akhirnya Tumbuh Positif Setelah 16 Bulan Keok

10 Juni 2021 21:31 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Warga berbelanja di los sayur dan buah di Pasar Bersih Sentul City, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, 15 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Laporan Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia (BI) menunjukkan Indeks Penjualan Riil (IPR) berhasil meningkat 15,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Maret 2021 yang -14,6% (yoy). Ini adalah pertumbuhan IPR pertama setelah 16 bulan terkontraksi.

“Responden menyampaikan peningkatan kinerja penjualan eceran didorong meningkatnya permintaan selama Ramadan didukung berbagai program potongan harga (diskon),” ujar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Edwin Haryono dalam siaran pers, Rabu, 10 Juni 2021.

IPR pada April 2021 ini tercatat sebesar 220,4. Ini berarti IPR juga tumbuh secara bulanan sebesar 17,3% (month-to-month/mtm), lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 6,1% (mtm).

Meningkatnya penjualan ini terutama didukung oleh subkelompok sandang yang berhasil tumbuh 55,2% (yoy) dan kelompok bahan bakar kendaraan bermotor yang tumbuh 37,3% (yoy).

Meski begitu, masih tercatat beberapa kelompok penjualan yang terkontraksi pada April 2021. Misalnya, kelompok barang budaya dan rekreasi terkontraksi 7,8% (yoy), perlengkapan rumah tangga lainnya terkontraksi 10,8% (yoy), dan peralatan informasi dan komunikasi terkontraksi 31,1% (yoy).

“Meskipun meningkat secara tahunan, IPR April 2021 masih tercatat lebih rendah dibandingkan April 2019 sebelum pandemi COVID-19 yaitu sebesar 229,3,” tulis laporan survei BI tersebut.

Pertumbuhan IPR sempat mencapai titik terburuknya pada Mei 2020 yang -20,6%. Hal ini terjadi juga akibat pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada tahun lalu.

Mei 2021 masih diperkirakan tumbuh meski melambat

Erwin Haryono juga mengungkapkan kinerja penjualan juga akan tumbuh positif pada Mei 2021. BI memperkirakan IPR berada di angka 223,9. Hal ini sejalan dengan berlanjutnya kenaikan permintaan pada periode Ramadan dan Idulfitri.

“IPR Mei 2021 diprakirakan tumbuh 1,6% (mtm) dan 12,9% (yoy), meskipun tidak setinggi pertumbuhan bulan sebelumnya. Perlambatan diprakirakan terutama terjadi pada Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau dan Subkelompok Sandang,” ujarnya.

Mengutip laporan survei, sebagian besar responden menyatakan perlambatan tersebut disebabkan pola musiman permintaan usai Idulfitri yang tidak setinggi periode Ramadan.

Dari sisi harga, responden memprakirakan tekanan inflasi pada 3 bulan mendatang (Juli) diprakirakan sedikit meningkat, sementara pada 6 bulan mendatang (Oktober) diperkirakan menurun.

Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) 3 bulan yang akan datang (Juli) sebesar 142,4, sedikit meningkat dari 141,4 pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, IEH 6 bulan yang akan datang (Oktober) sebesar 134,0, sedikit lebih rendah dari 134,9 pada bulan sebelumnya, dipengaruhi oleh distribusi barang yang lancar dan pasokan yang cukup. (LRD)

Berita Terkait