Berkah Pandemi, Penjual dan Pengguna Tokopedia Meroket 133 Persen

March 24, 2021, 10:02 PM UTC

Penulis: Dewi Aminatuz Zuhriyah

Warga mengakses salah satu platform e-commerce untuk berbelanja secara daring melalui gawai dalam rangka Hari Belanja Online Nasional atau ‘Harbolnas 11.11’ di Tangerang, Banten, Rabu, 11 November 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Pelaku usaha dan pengguna aktif e-commerce Tokopedia meroket dalam satu tahun terakhir, tepatnya selama pandemi COVID-19.

Hasil riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pada 2020 mencatat 7 dari 10 pelaku usaha di Tokopedia mengalami kenaikan volume penjualan dengan median sebesar 133%.

Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Tokopedia Astri Wahyuni mengatakan, riset tersebut menunjukkan peningkatan penjualan pelaku usaha paling tinggi terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebesar 144,6%, Sulawesi Tengah 73,4% dan Sulawesi Selatan 73,3%.

Tiga provinsi dengan peningkatan jumlah pelaku usaha tertinggi di Tokopedia selama pandemi adalah Bali 66,2%, Yogyakarta 42,2% dan DKI Jakarta 28,3%.

“Pandemi telah mempercepat transformasi digital di berbagai sektor. Digitalisasi dan teknologi bukan lagi sekadar nilai tambah, tetapi telah berkembang pesat menjadi sebuah kebutuhan untuk menjawab tantangan pandemi,” kata Astri dalam keterangan resmi, Rabu, 24 Maret 2021.

Dia menambahkan, data internal Tokopedia mencatat adanya peningkatan jumlah penjual dari 7,2 juta sebelum pandemi Januari 2020 menjadi lebih dari 10 juta penjual saat ini.

Selain peningkatan jumlah penjual, jumlah pengguna aktif bulanan juga mengalami peningkatan dari 90 juta sebelum pandemi, Januari 2020, menjadi lebih dari 100 juta saat ini.

Usaha Mikro

Kepala LPEM FEB UI, Riatu Mariatul Qibthiyyah memaparkan hasil riset juga menunjukkan 90% penjual berskala mikro di Tokopedia. Dari total pelaku usaha di Tokopedia, sebesar 68,6% penjual yang bergabung dengan Tokopedia pada saat pandemi merupakan pencari nafkah tunggal di keluarga.

Sementara, sebanyak 76,4% penjual mengatakan kemudahan mengelola bisnis menjadi alasan utama bergabung dengan Tokopedia.

Riatu menambahkan peningkatan jumlah penjual dan pengguna aktif Tokopedia sebagian besar dipicu oleh perubahan pola konsumsi masyarakat selama pandemi COVID-19.

Menurutnya, belanja online semakin menjadi alternatif masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sekaligus mengurangi risiko penyebaran virus di tempat ramai.

“Rata-rata pengeluaran bulanan konsumen sebelum dan saat pandemi di Tokopedia meningkat 71 persen,” jelas Riatu.

Riset tersebut mengungkap bahwa transaksi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan kesehatan, hobi dan tagihan meningkat saat pandemi.

“Platform belanja daring Tokopedia semakin diandalkan berbagai kalangan. Konsumen baru dari kalangan ibu rumah tangga, pelajar, mitra aplikasi online, wirausaha tanpa karyawan dan pekerja lepas meningkat di masa pandemi,” imbuhnya.

Selain itu, riset LPEM FEB UI juga menemukan bahwa e-wallet terverifikasi dan mobile/internet banking adalah dua produk keuangan yang paling banyak didaftarkan saat pandemi. Transaksi melalui virtual account dan e-wallet juga banyak dipilih selama pandemi.

Adapun, Tokopedia berharap akan semakin banyak pihak yang lebih gencar berkolaborasi dalam membantu pegiat usaha di Indonesia, khususnya usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), terus berkontribusi memulihkan ekonomi. Mengingat, UMKM berkontribusi lebih dari 60% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Ke depannya, Tokopedia akan terus mengedepankan lima pilar utama dalam mendorong perkembangan bisnis. Mulai dari memperkuat fondasi, fokus pada kebutuhan konsumen, dan memperluas pemanfaatan data.

Tokopedia juga mengedepankan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan menjalankan kerangka kerja yang optimal secara finansial. (SKO)