Berkah Bulan Puasa (Serial 3): Cuan Ramadan di Pasar Saham

12 April 2021 07:07 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Umat Muslim menunaikan Sholat Taraweh Bulan Ramadhan di Masjid Istiqlal, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Pada laporan serial sebelumnya, Ramadan tahun 2021 kemungkinan akan dilalui dengan cukup mulus. Hal ini dibuktikan dari mulai merangkaknya beberapa harga komoditas disebabkan peningkatan permintaan hingga optimisme para pelaku usaha dalam menghadapi bulan puasa kedua di tengah pandemi COVID-19.

Masyarakat dan para pelaku usaha tak ingin kejadian pada bulan puasa tahun lalu kembali terjadi. Saat itu, perekonomian terseok-seok digempur oleh virus corona. Sikap optimistis serupa tampaknya juga ditunjukkan oleh pelaku pasar modal Indonesia, meskipun tidak signifikan.

Analis Binaartha Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama mengatakan bahwa secara historikal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada periode bulan April 2021 akan menguat dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Di samping itu, para pelaku pasar modal juga masih menanti kinerja pemerintah dalam meningkatkan optimalisasi vaksinasi massal. Menurutnya, peningkatan program vaksinasi di dalam negeri akan membangkitkan kepercayaan diri para konsumen.

Sama seperti laporan serial pertama, Nafan turut menduga akan ada potensi membaiknya kinerja inflasi dengan ditandai terjadinya kenaikan harga sembako. Kondisi ini pun diikuti oleh peningkatan permintaan yang berujung pada peningkatan sejumlah harga komoditas secara terukur.

“Seperti diketahui, sepanjang pandemi ini masyarakat banyak yang menabung ya. Sehingga menjelang puasa mestinya secara psikologis ini bisa menjadi peningkatan akses konsumsi,” ujarnya kepada TrenAsia.com, Minggu 11 April 2021.

Puasa Bikin IHSG Haus?
Karyawan melintas dengan latar layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 15 Februari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Nafan memprediksi, IHSG pada periode puasa hingga Lebaran nanti masih dalam kondisi cukup aman dan cenderung uptrend. Sedangkan secara mingguan (weekly), IHSG masih berada pada fase reakumulasi atau distribusi.

“Tapi andaikan program vaksinasi massal masih berjalan dengan baik, dan menunjukkan progres yang memadai, semestinya IHSG masih akan baik,” imbuhnya.

Optimisme yang ditunjukkan Nafan sejalan dengan target pencapaian IHSG secara tahunan di tahun ini. Berdasarkan rasio fibonacci, menurutnya level support IHSG akan meningkat sekitar 61,80% pada kisaran 6.417,67 di tahun 2021.

 “Apakah ini bakal tercapai di bulan Mei 2021 atau seperti apa, yang jelas saya pikir market akan lebih baik,” tegas dia.

Berbeda dengan Nafan, Analis Panin Sekuritas William Hartanto justru mengafirmasi adanya potensi pelemahan IHSG di tengah bulan suci umat Islam tersebut. Ia menyebut, support maupun resistance IHSG selama periode puasa dan Lebaran akan berada pada rentang 6.050 – 6.241.

“Sentimen khusus belum ada, tapi kondisi market capital outflow diperkirakan masih akan berlanjut,” tuturnya melalui pesan singkat.

Senada, Direktur PT MNC Asset Management Edwin Sebayang memperkirakan periode Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri nanti, perdagangan bursa saham akan cenderung sepi. Sejalan dengan hal tersebut, nilai transaksi juga akan berjalan lambat.

Selain itu, perkembangan atas peningkatan imbal hasil (yield) obligasi 10 tahun Amerika Serikat (AS) masih akan memengaruhi kinerja indeks komposit dalam beberapa waktu ke depan.

Tak hanya itu, para investor juga akan memerhatikan harga komoditas, perkembangan nilai tukar rupiah, hingga laporan keuangan emiten kuartal-I 2021.

“Jadi saya pikir empat isu besar itu juga mesti kita perhatikan pada periode ini ya,” ucap Edwin saat dihubungi terpisah.

Bahkan, Edwin menduga IHSG akan sulit untuk mempertahankan posisi di level psikologis 6.000 selama periode tersebut. Secara teknikal, level support indeks akan berada pada kisaran 5.900 hingga 6.200 sampai sebulan ke depan.

Kebijakan Pemerintah Hingga Dominasi Investor Ritel
Warga berbelanja di los sayur dan buah di Pasar Bersih Sentul City, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, 15 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Prediksi pelemahan IHSG ini tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen-sentimen dari global. Di dalam negeri, terdapat kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai anomali, terutama terkait penanganan pandemi COVID-19 di tengah suasana Ramadan dan Idulfitri.

Salah satunya adalah diberlakukannya kebijakan insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) 0% untuk meningkatkan penjualan mobil baru. Di sisi lain, masyarakat masih dilarang untuk mudik di tahun ini.

“Kalau saya menilai (kebijakan) itu seperti useless (tidak berguna), karena mereka beli mobil tapi tidak bisa digunakan bepergian, untuk mudik dan sebagainya,” sambung Edwin.

Yang tak kalah menarik, lesunya kinerja IHSG seyogyanya dibarengi dengan dominasi investor ritel pada pasar modal Indonesia. Secara karakteristik, investor ritel sendiri kerap melakukan transaksi dalam jangka waktu pendek. Bagi Edwin, kondisi seperti ini membuat gerak IHSG menjadi lebih fluktuatif.

“Dan mereka (investor ritel) dengan masuk ke saham-saham yang tidak termasuk dalam jajaran saham big caps. Mereka memang lebih cenderung memilih saham-saham yang medium-low,” ungkapnya.

Setidaknya faktor inilah yang membuat IHSG tidak akan mendapat berkah dari puasa dan Lebaran tahun ini. Bahkan, hampir sulit untuk IHSG menunjukkan kinerja yang jauh lebih baik dari periode yang sama di tahun lalu.

“Menurut saya tidak akan jauh lebih bagus dari tahun lalu, kalau pun (IHSG) menguat, mungkin hanya sedikit,” tukas Edwin.

Sektor Unggulan
Kendaraan pemudik terjebak kemacetan sebelum memasuki pintu Tol Palimanan, Cirebon, Jawa Barat. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Jika biasanya sektor otomotif dan turunannya paling diuntungkan pada masa puasa dan Lebaran, namun tampaknya fenomena ini belum dapat terjadi di tahun ini. Wacana larangan mudik dari pemerintah dipastikan bakal mengganggu kinerja saham-saham emiten sektor manufaktur dan otomotif.

Kendati begitu, Nafan menilai euforia Hari Raya Idulfitri bisa dialihkan ke aktivitas konsumsi di bidang kuliner hingga ritel. Menurutnya, hal ini membuka kesempatan bagi saham-saham sektor konsumer dan ritel mengalami potensi bullish.

Nafan menuturkan bahwa pergerakkan indeks konsumer mengalami tren yang cenderung sideways dibandingkan dengan IHSG yang sudah membentuk pola rounding bottom. Secara teknikal, indeks sektor konsumer akan berada pada kisaran level 1.783 pada tahun ini.

“Bahkan kalau sampai breakout dari level itu, bisa kembali ke level 1.977 di samping harapan komitmen pemerintah yang kuat untuk meningkatkan stimulus di bidang bantuan sosial yang berhubungan dengan sektor konsumer,” jelasnya.

Dengan analisis tersebut, ia merekomendasikan sejumlah saham yang layak untuk dicermati terkait dengan efek puasa dan Lebaran tahun ini. Di antaranya LPPF, MAPI, ICBP, INDF, MYOR, dan UNVR. Nafan menduga akan terjadi akumulasi transaksi secara bertahap pada saham-saham tersebut.

“Alasannya karena pelaku pasar saat ini meyakini adanya pemulihan ekonomi. Jadi itu alasan yang paling esensial,” papar dia.

Sementara itu, William merekomendasikan saham-saham di sektor ritel menjelang puasa ini. ia menilai saham LPPF MLPL MPPA MAPI dan RALS dapat menjadi pertimbangan investor dalam beberapa waktu ke depan meskipun tidak mampu menjadi penopang kinerja indeks komposit.

Sedangkan, saham sektor konsumer seperti INDF dan ICBP menurutnya masih bisa menjadi opsi di tengah prediksi pelemahan IHSG. Namun, sektor otomotif tidak masuk ke dalam jajaran rekomendasinya karena masih lemahnya tingkat pembelian sejumlah produk otomotif.

“Karena minat beli masih lemah, kemungkinan tidak ada penguatan (sektor otomotif). Terlebih lagi Lebaran kali ini dilarang mudik ya, sehingga tidak bisa jadi sentimen positif,” tutup William.

Adapun untuk periode bulan ini, Mirae Asset Sekuritas condong pada saham-saham emiten di sektor bank, rumah sakit, agrobisnis, pertambangan, unggas serta konsumen. Saham pilihannya yakni BBRI, HEAL, SIMP, ANTM, UNTR, JPFA, MAIN, dan INDF. (SKO)

Artikel ini merupakan serial laporan khusus yang akan bersambung terbit berikutnya berjudul “Berkah Bulan Puasa.”

  1. Berkah Bulan Puasa (Serial 1): Harga Pangan Terungkit Tanda Ekonomi Bangkit
  2. Berkah Bulan Puasa (Serial 2:) Pengusaha Ritel Tak Putus Asa

Berita Terkait