Berisiko Tinggi, Alasan Investor Domestik Sempat Enggan Danai Start Up

20 Agustus 2021 13:28 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Amirudin Zuhri

Driver Ojek Online menunjukkan menu GoRide yang tidak tersedia di Aplikasi Gojek, Jakarta, Jumat (10/4/2020). Peraturan Gubernur DKI Jakarta dalam pelaksanaan PSBB mengatur angkutan roda dua seperti ojek online maupun ojek konvensional dilarang membawa penumpang. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira menyatakan, start up dalam negeri memang masih didominasi oleh investor asing. Bukan tanpa alasan, sebab di awal masa kemunculannya di Indonesia, start up masih dianggap sebagai bisnis yang berisiko tinggi oleh lembaga pembiayaan seperti perbankan.

Kala itu perbankan belum bisa menganalisis prospek bisnis start up di masa depan, terutama lagi era ekonomi digital tak semaju sejak pandemi COVID-19 melanda dunia. Walhasil, lembaga keuangan maupun investor domestik enggan berinvestasi di start up.

“Itulah anggapan lima tahun lalu, sehingga mau tidak mau start up mencari pendanaan dari investor asing,” pada TrenAsia, Rabu 18 Agustus 2021.

Gayung bersambut, investor asing justru menyambut start up Indonesia dengan tangan terbuka. Satu per satu start up lokal mendapat injeksi modal dari berbagai modal ventura asing. Kejelian investor asing melihat potensi start up inilah yang pada akhirnya berperan membesarkan start up Indonesia hingga kini menjelma menjadi decacorn.

Kabar baiknya, pandemi COVID-19 seolah membuka mata serta mengubah konstelasi perekonomian Indonesia. Kini, ekonomi digital alias new economy digadang-gadang akan melengserkan old economy dari berbagai sektor konvesional.

Tercermin dari fenomena banyaknya konglomerasi dan perbankan yang mulai gencar menabur investasinya di start up lokal. Bank BUMN pun kini memiliki cabang bisnis di bidang modal ventura.

“Meskipun terbilang relatif terlambat, namun lembih baik memang start up kita didominasi oleh investor domestik,” lanjut Bhima.

Mengapa? 

Pertama, ketika start up mulai menghasilkan profit, keuntungan tersebut cenderung lebih banyak dibawa keluar dari Indonesia menuju negara asal investornya masing-masing. Keluarnya devisa dari tiap pembagian profit ke investor asing bisa mengakibatkan tekanan nilai tukar rupiah dan memengaruhi neraca pembayaran Indonesia.

Kedua, muncul kekhawatiran start up lokal akan menjadi saluran barang-barang impor dari negara asal investor. Suntikan modal ke start up dianggap sebagai salah satu jalinan rantai distribusi produk asing ke Indonesia. 

“Itu sudah terjadi, kenapa e-commerce banyak barang impor? Karena ada ketergantungan modal dari asing, sedangkan investor luar punya kepentingan untuk penetrasi barang impor di Indonesia,” terang Bhima.

Berita Terkait