Berharap Kerek Kinerja, KAI Raih Kontrak Proyek Pengiriman LNG dari PGN

26 Juli 2021 00:30 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Rangkaian Kereta Api jarak jauh melintas di area Depo Cipinang, Jakarta Timur, Selasa, 22 Juni 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI meraih kontrak baru proyek pengangkutan Liquefied Natural Gas (LNG). Proyek ini diperoleh dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

Dua perusahaan telah menandatangani Heads of Agreement (HoA) kerja sama penyediaan solusi energi berbasis gas bumi tersebut. KAI nantinya bakal menjadi mitra distribusi LNG yang dikelola oleh PGAS.

Penandatanganan Pokok-pokok Perjanjian tersebut dilakukan oleh Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo dan Direktur Utama PGN M. Haryo Yunianto.

“Sinergi BUMN ini merupakan langkah kolaboratif dan adaptif KAI di masa pandemi COVID-19 yang masih berlangsung untuk memaksimalkan kinerja KAI di sektor angkutan barang,” ujar Didiek dalam keterangan tertulis yang diterima TrenAsia.com, Minggu, 25 Juli 2021.

Dalam waktu dekat, KAI bakal melakukan uji coba pengangkutan LNG menggunakan kereta api. Hal ini merupakan langkah awal untuk menjamin keamanan distribusi LNG tersebut. Meski begitu, Didiek mengklaim pengiriman LNG menggunakan kereta api lebih aman dan ramah lingkungan.

“KAI siap mengangkut LNG milik PGN menggunakan kereta api dari berbagai stasiun ke tempat-tempat distribusi yang dimiliki PGN. Keunggulan angkutan barang menggunakan Kereta Api di antaranya adalah waktu pengiriman yang terjadwal, tepat waktu, lebih ramah lingkungan, serta aman,” ujar Didiek.

Proyek ini, kata Didiek, juga masuk dalam upaya peningkatan kinerja di tahun ini. Pasalnya, pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia sejak tahun lalu membuat bisnis KAI babak belur.

Hal ini tampak dari kerugian bersih yang dialami KAI pada 2020 sebesar Rp2,84 triliun. Padahal, KAI masih mampu mencetak laba bersih Rp1,84 triliun pada 2019.

Pendapatan Menyusut

Dalam laporan keuangannya, PT KAI membukukan pendapatan Rp18 triliun sepanjang 2020 atau menyusut 45,2% dibandingkan 2019 yang sebesar Rp26,25 triliun.

Merosotnya pendapatan perseroan paling banyak disumbangkan oleh lesunya sumber pendapatan angkutan pada 2020 yang hanya Rp14 triliun dari sebelumnya Rp22 triliun pada 2019.

Maka, perseroan menyetor rugi komprehensif yang dapat diatribusikan ke entitas induk sebesar Rp2,8 triliun. Padahal, perseroan mampu menyumbangkan laba komprehensif yang dapat diatribusikan kepada entitas induk mencapai Rp1,8 triliun pada 2019.

Untuk menanggung kerugian, perseroan melakukan aksi menaikkan liabilitas sepanjang tahun lalu. Liabilitas jangka pendek perusahaan pelat merah ini naik tipis dari Rp8,1 triliun pada 2019 menjadi Rp9,2 triliun pada 2020. 

Sementara liabilitas jangka panjang perseroan melejit dari Rp16 triliun pada 2019 menjadi Rp26 triliun pada 2020. dengan demikian, kewajiban liabilitas perseroan secara keseluruhan pada 2020 mencapai Rp36,1 triliun.

Berita Terkait