Berdampak pada Harga Pangan, Kebijakan NTM Perlu Dikaji Ulang

02 Agustus 2021 13:32 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Amirudin Zuhri

Perdiaan beras d Gudang Bulog Jabar untuk disalurkan ke waga Kota Bandung. (Humas Pemkot Bandung)

JAKARTA - Pemerintah didorong untuk mengkaji ulang dampak dari kebijakan nontarif measures (NTM) untuk mendukung keamanan pangan domestik. Selain itu, diharapkan pula bisa mengurangi efek distorsi pasar yang berlebihan.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Arumdriya Murwani mengatakan, implementasi yang tampak dari berbagai regulasi , telah membatasi perdagangan internasional, seperti memberikan persyaratan izin impor, jumlah importir dan lainnya.

“Hambatan-hambatan seperti monopoli impor beras dan pembatasan pelaku impor akan berdampak pada harga pangan dalam negeri,” mengutip siaran pers, Senin, 2 Juli 2021.

Restriksi pada impor jagung untuk pakan, misalnya, Arum bilang dengan adanya monopoli, harga daging ayam dan telur terkena dampaknya. Hal ini disebabkan oleh pakan jagung yang menghabiskan 50-60% dari biaya produksi keseluruhan. Menurutnya, harus ada koordinasi antarmenteri sebelum mengambil keputusan impor.

Harga pangan sendiri dianggap berpengaruh terhadap penurunan tingkat konsumsi. Kenaikan harga pangan sebesar Rp1.000, kata Arum, berpotensi mengurangi konsumsi beras rumah tangga per kapita bulanan sebesar 0,67 kg. Jika harga beras lokal saat ini Rp5.109,18, maka tingkat konsumsi berpotensi naik sebesar 3,43 kg.

Kemungkinan Stunting

Padahal, penurunan tingkat konsumsi pangan secara umum memiliki pengaruh terhadap kemungkinan stunting pada anak. Oleh karena itu, ia menimbau pemerintah untuk mendukung produsen lokal dalam mengakses asupan bermutu. Selain itu, mereka juga dapat meningkatkan produktivitas pertanian untuk menjaga ketahanan pangan.

”Tidak kalah strategis untuk menerapkan sistem impor otomatis (automatic import licensing system) yang transparan supaya importir dapat bertindak sesuai kebutuhan pasar,” tambahnya.

Ia bilang, eksekusi impor dapat diperhitungkan sejak jauh hari sehingga tidak berdekatan dengan masa panen petani. Di sisi lain, akses kepada pasokan dari luar negeri melalui perdagangan internasional bisa membuat ketersediaan pangan menjadi relatif lebih stabil.

Industri hilir yang menggunakan bahan baku lokal, juga akan diuntungkan dengan akses kepada bahan baku yang lebih terjangkau dari pasar internasional. Dengan demikian, daya saing serta penyerapan tenaga kerjanya diharapkan dapat memperbesar daya beli masyarakat.

Berita Terkait