Berbalik Untung, Barito Pacific Milik Prajogo Pangestu Rilis Obligasi Rp750 Miliar

01 Juni 2021 06:05 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Manajemen PT Barito Pacific Tbk. melakukan paparan publik tahunan, Jumat 29 November 2019 di Wisma Barito Pasific/ www.barito-pacific.com

JAKARTA – Emiten sumber daya alam PT Barito Pacific Tbk (BRPT) milik orang terkaya ke-3 di Indonesia, Prajogo Pangestu berencana menerbitkan obligasi senilai Rp750 miliar. Obligasi ini merupakan bagian dari penawaran Obligasi Berkelanjutan II Barito Pacific Tahun 2021 dengan total Rp1,5 triliun.

Melalui prospektus yang dirilis perseroan, Senin 31 Mei 2021, Obligasi Berkelanjutan II Barito Pacific Tahap I tahun 2021 ini akan terbagi dalam dua seri. Di antaranya Seri A dengan tenor 3 tahun dan seri B dengan jangka waktu 5 tahun.

Rencananya, masa penawaran surat utang ini dilaksanakan pada 2 hingga 16 Juni 2021 dengan perkiraan tanggal efektif pada 29 Juni 2021. Adapun masa penawaran umum dilakukan pada 1 – 5 Juli 2021, tanggal penjatahan pada 6 Juli 2021, dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Juli 2021.

Dana hasil emisi obligasi akan digunakan perseroan untuk membayar sebagian utang pokok berdasarkan facility agreement yang dimiliki perseroan.

Kendati begitu, perseroan belum memastikan nilai penerbitan di masing-masing seri obligasi tersebut, termasuk tingkat imbal hasil yang akan ditawarkan.

Pada kuartal I-2021, perseroan berhasil membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$45,27 juta atau setara Rp656,42 miliar (asumsi kurs Rp14.500 per dolar Amerika Serikat).

Angka ini berbanding terbalik dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama pada tahun sebelumnya, di mana perseroan mencatat rugi bersih hingga US$2,08 juta atau sekitar Rp30,16 miliar.

Capaian tersebut didorong oleh naiknya pendapatan perseroan secara signifikan. BRPT menorehkan pendapatan bersih sebanyak US$726 juta, setara Rp10,53 triliun pada kuartal pertama tahun ini atau lompat 18,9% year-on-year (yoy) dari periode yang sama tahun 2020, US$611 juta, sekitar Rp8,86 triliun. (SKO)

Berita Terkait