Berawal dari Jerman, Teknologi Pengubah Batu Bara Kini Dikembangkan di Sasol, Afrika Selatan

05 Maret 2021 13:06 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Ilustrasi pertambangan batu bara. / Pixabay

JAKARTA – Teknologi Indirect Coal Liquefaction (ICL) merupakan salah satu proses pengubahan energi batu bara menjadi bahan bakar mobil dan Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menjelaskan, terdapat dua tahapan utama yang harus dilalui untuk mendapatkan bahan bakar sintetik dari ICL.

“Step pertama, batu bara diolah untuk menghasilkan gas karbonmonoksida dan hydrogen. Gas ini dinamakan dengan synthetic gas atau syngas,” tulisnya dalam akun Instagram resmi @arcandra.tahar, Kamis, 4 Februari 2021.

Selanjutnya, syngas tersebut akan diolah menjadi solar, methanol atau dimetil ether  (DME) yang merupakan subsitusi atau pengganti LPG.

Namun, seiring dengan perkembangannya, muncul juga teknologi baru dengan proses Direct Coal Liquefation (DCL) yang mampu menghasilkan gasoline.

Berbeda dengan ICL, lanjut Arcandra, DCL hanya membutuhkan satu tahapan untuk mengubah batubara menjadi semi-coke sebagai produk utama, yakni coal tar dan gasoline. Prosesnya akan tergantung dari jenis hydrocarbon yang menjadi target produksi.

“Proses DCL dapat dilakukan dengan salah satu dari tiga pendekatan, yaitu pyrolysis, carbonization atau hydrogenation,” jelasnya. Sementara itu, semi-coke nantinya dapat digunakan sebagai reduktor di smelter nikel.

Bermula di Jerman

Sebelumnya, Arcandra menjelaskan teknologi CTL sendiri mulai dikembangkan pada awal abad-20 oleh Franz Fischer and Hans Tropsch di Jerman.  Negara ini memiliki cadangan batu bara kurang lebih 36 miliar ton atau 3% dari total cadangan batu bara di dunia.

Disebutkan, tujuan utama penggunaan teknologi ini untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar pada alat perang. Namun, setelah Jerman mengalami kekalahan di Perang Dunia II, pengoperasion CTL tersebut dihentikan.

Kesepakatan ini tertuang dalam the Postdam Conference pada bulan July – Agustus 1945 yang dihadiri oleh Soviet Union, UK dan Amerika Serikat (AS).

Kemudian, pada 1950, Sasol, perusahaan pengolah batu bara, minyak dan gas dari Afrika Selatan memilih untuk mengembangkan teknologi ini lebih lanjut.

Pada waktu itu, pertimbangannya adalah tidak tersedianya cadangan minyak yang bisa mengamankan kebutuhan energi di Afrika Selatan. Kedua, cadangan batu bara yang ada di sana mencapai 10 miliar ton.

Jumlah ini pun membuat Afrika Selatan berada di urutan kedua belas sebagai negara pemilik cadangan batu bara terbesar di dunia. Ketiga, politik apartheid yang dijalankan sejak 1948-1990 membuat negara ini diembargo oleh Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB).

Arcandra mengungkapkan, adanya embargo perdagangan tersebut membuat Afrika Selatan tidak bisa mendapatkan akses untuk membeli minyak dari negara lain. Maka, untuk keluar dari situasi itu, Sasol akhirnya memproduksi bahan bakar sintetik dengan teknologi CTL.

“Walaupun dari segi ekonomi jauh lebih mahal daripada BBM, sekitar 30 persen kebutuhan bahan bakar di Afrika Selatan mampu dipenuhi oleh Sasol,” tuturnya.

Berita Terkait