Belum Ada Kepastian Pelaksanaan Ibadah Haji, Jemaah Indonesia Masih Maju Mundur

April 19, 2021, 04:04 PM UTC

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Kakbah/Aljazeera

JAKARTA – Kepastian pelaksanaan ibadah haji semakin banyak dipertanyakan penduduk muslim dunia pada tahun ini.

Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Esam Abid Altaghafi mengatakan, otoritas Arab Saudi berencana membuka negaranya untuk ibadah haji tahun ini.

“Kami juga masih menunggu informasi ataupun berita terbaru, tetapi Insya Allah akan ada ibadah haji untuk muslim di Indonesia serta muslim di dunia,” kata Esam yang dilansir Antara, Senin 19 April 2021.

Kendati demikian, warga muslim Indonesia belum dapat sepenuhnya bernafas lega. Pasalnya, pintu masuk ke Arab Saudi diberikan kepada penerima vaksin COVID-19 dari merek yang sudah tersertifikasi Emergency Use Listing (EUL) dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Untuk diketahui, Indonesia mengandalkan pasokan vaksin COVID-19 dari Sinovac. Perusahaan asal China tersebut rupanya belum mengurus EUL atas vaksin buatannya yang dinamakan CoronaVac.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin pun belum dapat memastikan calon jemaah haji asal Indonesia yang sudah divaksin dari Sinonvac dapat diizinkan masuk ke Arab Saudi.

Mantan Direktur Utama (Dirut) Bank Mandiri masih melakukan negosiasi terkait dengan hal ini dengan otoritas setempat. Lebih pelik lagi, calon jemaah haji di atas 60 tahun tercatat telah disuntik vaksin Sinovac.

“Kita sudah lobi ke Pemerintah Arab Saudi untuk menerima (jemaah yang disuntik vaksin Sinovac). Kita bilang, kita sudah vaksin, tolong dibantu,” kata Budi dalam webinar. Minggu 18 April 2021.

Izin terhadap vaksin Sinovac menjadi penentu calon jemaah haji Indonesia untuk berangkat ke Arab Saudi. Di dalam negeri, vaksin Sinovac kini sudah menjadi tumpuan program vaksinasi COVID-19 usai adanya gangguan pengiriman vaksin AstraZeneca dari India beberapa waktu lalu.

EUL merupakan salah satu acuan bagi suatu negara untuk menerbitkan Emergency Use Authorization (EUA). Selain itu, EUL merupakan prasyarat pasokan vaksin Covax yang disubsidi oleh WHO ke berbagai negara di dunia.

Hingga saat ini, baru terdapat dua merek vaksin yang sudah mengantongi EUL, yakni Pfizer-BioNTech dan AstraZeneca. Adapun tiga merek vaksin lain yang sedang memproses izin EUL adalah Sinopharm, Moderna, dan Sinovac.

Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Saleh Partaonan Daulay pun mendorong pemerintah Indonesia untuk mendesak Sinovac agar segera mengantongi EUL dari WHO. Menurut Saleh, pihaknya masih belum dapat memastikan kapan izin tersebut bisa didapat Sinovac.

“Ini saya dengar malah Pemerintah Indonesia yang memberikan perkiraan. Ada yang memperkirakan akan keluar di bulan April, ada juga yang menyebut di awal Mei. Sampai hari ini belum keluar dan belum masuk dalam list WHO,”  kata Saleh, Senin 19 April 2021.

Indonesia secara keseluruhan telah mendapat 59,5 juta bulk vaksin Sinovac. PT Bio Farma (Persero) telah mengonversi sebanyak 70% atau 47 juta dosis vaksin Sinovac tersebut. Adapun 22 juta dosis vaksin Sinovac produksi Bio Farma tercatat telah dikirimkan ke berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut Saleh, keterlambatan Indonesia dalam mengurus EUL vaksin Sinovac berefek panjang terhadap daftar tunggu haji. Untuk diketahui, rata-rata masa tunggu haji di Indonesia sudah melebihi 20 tahun.

“Karena itu, jamaah haji kita yang telah divaksin Sinovac harus dipastikan diakui dan diperbolehkan masuk Saudi. Kalau tidak, daftar antrean jamaah yang mau berangkat haji akan semakin panjang,” tegas Saleh.