Beli Activision Blizzard, Microsoft Susul Facebook Bangun Platform Metaverse

06 Februari 2022 17:00 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Rizky C. Septania

CEO Microsoft Satya Nadella. (Istimewa)

JAKARTA -- Microsoft Inc menyatakan kesiapannya untuk membangun platform metaverse setelah berhasil membeli pembuat video game Activision Blizzard senilai US$75 miliar setara Rp1.078 triliun bulan lalu.

CEO Microsfot Satya Nadella mengatakan bahwa pembelian Activision tersebut akan mendorong langkah perusahaan ke metaverse, sebuah dunia imersif, virtual, dan interaktif yang sedang dibangun oleh perusahaan Big Tech.

"Dalam game, kami melihat metaverse sebagai kumpulan komunitas dan identitas individu yang berlabuh di waralaba konten kuat yang dapat diakses di setiap perangkat," katanya dilansir Polygon, Jumat, 4 Februari.

Facebook Inc pertama kali mengumumkan pengembangan teknologi metaverse pada Oktober 2021 lalu. Teknologi ini disebut-sebut sebagai proyek masa depan manusia yang membantu orang-orang terhubung, menemukan komunitas, dan mengembangkan bisnisnya di dunia maya.

Nadella berupaya menjelaskan hubungan antara membangun metaverse dengan membeli Activision Blizzard, sekelompok studio game dan katalog besar kekayaan intelektual. Berbicara kepada Financial Times, dia telah berusaha menjelaskan lebih banyak pemikirannya tentang metaverse.

"Metaverse pada dasarnya adalah tentang membuat game. Ini tentang bisa menempatkan orang, tempat, benda [dalam] mesin fisika dan kemudian membuat semua orang, tempat, benda di mesin fisika saling berhubungan," katanya.

"Anda dan saya akan segera duduk di meja ruang konferensi dengan avatar atau hologram kami atau bahkan permukaan 2D dengan audio surround. Tempat di mana kita telah melakukan itu adalah bermain game.  Jadi, cara kami mendekati sisi sistem dari apa yang akan kami bangun untuk metaverse, pada dasarnya, mendemokratisasi pembangunan game," imbuhnya.

Asal tahu saja, tidak lama setelah dipromosikan menjadi CEO Microsoft pada tahun 2014, Nadella menghadapi panggilan untuk meninggalkan divisi game Xbox grup teknologi dan memusatkan sumber dayanya pada cloud computing—untuk bersaing dengan kompetitornya, seperti Amazon.

Namun sebaliknya, Nadella melihat peluang untuk membangun basis pelanggan baru melalui komunitas game online.

Kesepakatan pertamanya sebagai kepala eksekutif adalah membeli Minecraft, game pembangunan dunia tiga dimensi (3D).

Pada saat yang sama, dia mengembangkan lebih lanjut posisi dominan Microsoft dalam perangkat lunak pribadi dan bisnis dan memperluas penawaran cloud dan server-nya.

Saham dalam grup telah meningkat delapan kali lipat di bawah Nadella, dan tetap menjadi grup perangkat lunak terbesar di dunia.

Pembelian Activision Blizzard bulan lalu telah menjadikan Microsoft sebagai perusahaan game terbesar ketiga di dunia berdasarkan pendapatan, hanya berada di belakang Tencent China dan Sony Jepang.

Pembelian Activision Blizzard tidak hanya memperluas integrasi vertikal Microsoft dalam game, memberikan lebih banyak konten untuk konsol Xbox dan sistem distribusi game PC, tetapi ini juga menunjukkan bagaimana Nadella melihat masa depan interaksi online—di tempat kerja, di pendidikan, dan di rumah.

Nadella mengungkapkan di Microsoft tempatnya dibesarkan, dia selalu memikirkan tiga hal, yaitu membuat alat bagi orang-orang untuk menulis perangkat lunak; membangun alat bagi orang-orang untuk mendorong produktivitas pribadi dan organisasi mereka; dan membuat game.

"Jadi, bagi saya, game, coding, produktivitas, atau alat pekerja pengetahuan adalah intinya," terang Nadella.

Dia menambahkan bahwa pada periode sebelumnya, orang bermain game dengan tidak turut serta dalam permainan tersebut. Namun dengan dunia metaverse, orang akan menjadi pemain dalam game itu sendiri.

"Hari ini, saya bermain game, tetapi saya tidak ada di dalam game. Sekarang, kita bisa mulai bermimpi melalui metaverse ini: Saya benar-benar bisa berada di dalam game, sama seperti saya bisa berada di ruang konferensi dengan Anda dalam sebuah pertemuan," katanya ketika diwawancara editor FT Richard Waters.

Berita Terkait