Beberapa Tambang Berpotensi Tak Penuhi DMO, Indo Tambangraya Megah Siap Bayar Penalti

07 September 2021 21:30 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Rizky C. Septania

Emiten batu bara PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). (itmg.co.id)

JAKARTA – Emiten tambang batu bara PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mengungkapkan kemungkinan beberapa tambang miliknya tidak dapat memenuhi ketentuan kewajiban pasar domestik (domestic market obligation/DMO) tahun ini.

Direktur ITMG Jusnan Ruslan menjelaskan aturan DMO tahun ini mengatur perusahaan yang tidak bisa memenuhi ketentuan diwajibkan membayar penalti kepada pemerintah.

“Kita ada beberapa perusahaan, memang ada perusahaan yang masih belum mencapai target DMO 25% sehingga nanti kita akan lakukan pembayaran ke negara pada akhir tahun, sesuai dengan regulasi yang berlaku,” ujar Jusnan dalam paparan publik, Selasa, 7 September 2021.

Meski beberapa perusahaannya tidak dapat memenuhi DMO, Jusnan memastikan ITMG secara konsolidasian akan memenuhi ketentuan DMO yang sebesar 25% dari total penjualan batu bara tersebut.

Hingga semester I-2021, ITMG sudah berhasil menjual 9 juta ton batu bara. Dari total tersebut, penjualan domestik baru tercatat 19%. Penjualan terbanyak ITMG diekspor ke China 30%, Jepang 16%, Filipina 8%, Thailand 7%, Bangladesh 6%, Malaysia dan India 3%.

“Tiongkok dan Jepang tetap menjadi pasar penting utama kami untuk menjaga keseimbangan lemahnya permintaan dari India atas batu bara Indonesia,” tutur Jusnan.

Total penjualan 9 juta ton pada semester I-2021 ini berarti ITMG baru mencapai 40% dari target penjualan. ITMG sendiri menargetkan penjualan tahun ini dapat mencapai 21,5 juta-22,4 juta ton.

Hingga semester I-2021, 79% batu bara ITMG sudah dikontrak untuk dijual dengan sisanya 21% belum dikontrak. 56% batu bara yang sudah dikontrak dijual menggunakan harga tetap sementara 24% menggunakan harga indeks.

Secara umum, ITMG memperkirakan harga batu bara thermal secara global diperkirakan akan tetap kuat sepanjang 2021. Hal ini disebabkan stimulus dan kelanjutan dari perdagangan yang timbul atas pemulihan ekonomi.

Permintaan di musim panas diperkirakan menguat. Suplai yang ketat dan tingginya harga gas juga dianggap mendukung penggunaan batu bara. Larangan ekspor batu bara Australia ke China juga menjadi faktor yang mengangkat harga batu bara.

Pasar China tetap menjadi pasar andalan ITMG karena pemulihan ekonomi dan permintaan musim panas dapat mendorong permintaan di tengah kurangnya pasokan batu bara domestik. Selain itu, Pemerintah China juga sepertinya akan meneruskan relaksasi kebijakan impor mereka.

Berita Terkait