Beban Pemasaran Membengkak, Bank Neo Commerce Berbalik Rugi Rp264,7 Miliar

22 November 2021 18:15 WIB

Penulis: Adinda Purnama Rachmani

Editor: Vega Aulia

PT Bank Neo Commerce Tbk. resmi menjadi Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) II, setelah melakukan penambahan modal atau right issue Rp150 miliar pada Juli 2020. Dengan perubahan status tersebut, perseroan akan melakukan transformasi digital dengan sasaran pasar milenial. / Perseroan

JAKARTA - PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) menderita rugi bersih tahun berjalan senilai Rp264,7 miliar pada sembilan bulan pertama 2021, berbalik dari kondisi pada periode yang sama tahun lalu.

Pada periode yang sama tahun 2020, Bank Neo Commerce meraup laba bersih Rp4,3 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan dikutip pada Senin, 22 November 2021, Bank Neo mencatat rugi per saham dasar sebesar Rp44,97 dari sebelumnya laba Rp0,75 per lembar.

Padahal, pendapatan bunga bersih justru meroket 89,5% year-on-year (yoy) menjadi Rp241,04 miliar, dari hanya Rp127,18 miliar per September 2020.

Usut punya usut, kerugian yang dialami Bank Neo disebabkan oleh besarnya beban operasional selama periode Januari-September 2021. Total beban operasional Bank Neo membengkak 245,6% yoy dari Rp165,7 miliar menjadi Rp572,7 miliar.

Pembengkakan paling besar terjadi pada pos beban pemasaran yang naik 1.346% yoy menjadi Rp127,3 miliar. Selanjutnya, pos beban umum dan administrasi juga meningkat 316,3% yoy menjadi Rp308,5 miliar. Lalu, pos beban tenaga kerja naik 52,7% yoy menjadi Rp99,6 miliar.

Berita Terkait