Beban Operasional Membengkak, Bank Neo Commerce (BBYB) Merugi Rp132,86 Miliar

30 Agustus 2021 10:45 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

PT Bank Neo Commerce Tbk. resmi menjadi Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) II, setelah melakukan penambahan modal atau right issue Rp150 miliar pada Juli 2020. Dengan perubahan status tersebut, perseroan akan melakukan transformasi digital dengan sasaran pasar milenial. / Perseroan

JAKARTA – Calon bank digital PT Bank Neo Commerce Tbk membukukan kinerja negatif pada semester I-2021. Emiten bersandi BBYB ini mengalami kerugian bersih hingga Rp132,85 miliar pada paruh pertama tahun ini.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya di mana BBYB masih meraup laba bersih Rp19,32 miliar. Kerugian yang dialami BBYB ini bersumber dari membengkaknya total beban operasional hingga 172% secara tahunan (year on year/yoy).

Total beban operasional BBYB melesat dari Rp100,27 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp277,020 miliar pada semester I-2021. Adapun pendapatan bunga bersih Bank Neo Commerce sebesar Rp112,75 miliar tidak dapat menutupi boncos-nya beban operasional tersebut.

Jika dirinci, pendapatan bunga bersih yang diraih Bank Neo Commerce merangkak naik 21% yoy dari Rp92,83 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp112,75 miliar pada semester I-2021. Meski ditambah pendapatan operasional sebesar Rp31,69 miliar, BBYB tidak kuasa untuk menutup pengeluaran besar dari pos beban operasional.

Capaian ini membuat laba per saham (earning per share/EPS) Bank Neo Commerce ikut menjadi negatif. EPS BBYB berbalik dari Rp3,59 menjadi minus Rp22,57 per lembar saham.

Dari segi intermediasi, Bank Neo Commerce mengalami pertumbuhan 4,37% (year to date/ytd ) pada aspek penyaluran kredit. BBYB mencatatkan peningkatan penyaluran kredit menjadi Rp3,822 triliun dari sebelumnya Rp3,66 triliun.

Pertumbuhan pada aspek penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) lebih agresif lagi. DPK BBYBB meroket 38,55% ytd menjadi Rp4,60 triliun. Secara kumulatif, aset BBYB hingga semester I-2021 ini pun terungkit dari Rp5,42 triliun pada posisi akhir 2020 menjadi Rp,699 triliun pada semester I-2021.

Rupanya, peningkatan aset ini juga dibarengi dengan pertumbuhan pada pos liabilitas. Total liabilitas BBYB naik 33% ytd dari Rp4,30 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp5,75 triliun pada semester I-2021.

Hingga kini, BBYB masih mengantre untuk mengantongi izin bank digital dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Di sisi lain, transformasi bank yang dahulu bernama Bank Yudha Bhakti ini dimotori oleh PT Akulaku Silvrr Indonesia (Akulaku) yang menggenggam 24,98% saham BBYB.

Adapun jumlah saham yang dimiliki Akulaku sebanyak 1.872.177.646 saham. Akulaku tercatat bakal menjadi Pemegang Saham Pengendali (PSP) di BBYB pada Oktober 2021.

DI saat yang bersamaan, BBYB ditinggalkan oleh PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) atau ASABRI. Asuransi untuk TNI itu kini hanya memiliki 0,53% pada BBYB.

Jumlah ini menyusut dibandingkan komposisi pada awal 2021 yang sebesar 18,62%. Kepergian ASABRI ini sejalan dengan peningkatan pesat harga saham BBYB di bursa.

Menurut pantauan TrenAsia.com, harga saham BBYB telah menguat 22,7% dalam sepekan. Sementara dalam sebulan terakhir, pertumbuhan harga saham BBYB sudah mencapai 142,2%.

Maka, sejak IPO, saham BBYB sudah mengalami peningkatan hingga 618%. Saham BBYB dibuka di nominal Rp1.625 pada perdagangan sesi pertama, Senin, 30 Agustus 2021.

Berita Terkait