BCA Cetak Laba Bersih Rp14,5 Triliun, Melonjak 18 Persen pada Semester I-2021

22 Juli 2021 22:07 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Laila Ramdhini

Karyawan melayani nasabah di gerai BCA Mal Gandaria City, Jakarta Selatan, Kamis, 22 Oktober 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan laba bersih senilai Rp14,5 triliun pada semester I-2021, tumbuh 18,1% secara tahunan atau year on year (yoy).

Pertumbuhan tersebut disebabkan oleh basis perbandingan laba bersih yang lebih rendah pada kuartal II-2020, yang dipengaruhi oleh tingginya tingkat biaya kredit (cost of credit) saat awal pandemi COVID-19.

“Kami melaporkan bahwa performa BCA solid pada semester I-2021,” kata Presiden BCA, Jahja Setiaatmadja dalam konferensi pers, Kamis 22 Juli 2021.

Sebagai catatan, biaya cadangan pada kuartal II-2020 tercatat 32,4% lebih besar dibandingkan dengan kuartal II-2021.  

Laba bersih perseroan di paruh pertama tahun ini ditopang oleh kinerja positif pendapatan bunga bersih yang tumbuh 3,8% yoy menjadi Rp28,3 triliun. Di sisi lain, pendapatan non-bunga menurun tipis 1,2% yoy menjadi Rp10,2 triliun. 

Jahja menjelaskan penurunan ini sebagai dampak dari one-off gain dari penjualan portofolio reksa dana yang dibukukan tahun lalu. Akan tetapi, sebagian besar dapat diimbangi oleh kenaikan pendapatan fee dan komisi. 

Adapun, pendapatan fee dan komisi naik 7,5% yoy, lebih tinggi dibandingkan dengan level pra-pandemi. Terutama ditopang oleh pulihnya pendapatan fee dari perbankan transaksi seiring dengan peningkatan jumlah nasabah dan volume transaksi.

Dari segi intermediasi perbankan, BCA mencatatkan performa kredit yang stabil di angka Rp593,6 triliun pada Juni 2021. Sementara itu, kinerja dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 17,5% dari periode yang sama tahun lalu menjadi Rp895,2 triliun.

Walhasil, BCA dapat mendorong total aset naik 15,8% yoy menjadi Rp1.129,5 triliun pada akhir Juni 2021. Sedangkan, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tercatat sebesar 25,3%, lebih tinggi dari ketentuan regulator, serta kondisi likuiditas yang memadai dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 62,4%. 

Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tercarar sebesar 2,4% didukung oleh kebijakan relaksasi restrukturisasi.

“Pengelolaan loan at risk akan menjadi salah satu fokus BCA pada semester II tahun ini, mengingat pandemi yang diperkirakan masih akan berlanjut,” tambah Jahja.

Sebagai tambahan, rasio pengembalian terhadap aset (return on asset/ROA) tercatat sebesar 3,1%. Sementara rasio pengembalian terhadap ekuitas (return on equity/ROE) sebesar 16,6%.  

Berita Terkait