Baru Merger, Bank Syariah Indonesia (BRIS) Incar Investor Asing Lewat Rights Issue Rp7,15 Triliun

11 Maret 2021 18:29 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Karyawan melayani nasabah di kantor cabang Bank Syariah Indonesia (BRIS) Jakarta Hasanudin, Jakarta, Rabu, 17 Februari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) berencana melakukan penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue tahun ini.

Dari aksi tersebut, BSI menargetkan penghimpunan dana sebesar US$500 juta atau Rp7,15 triliun (kurs Rp14.300 per dolar Amerika Serikat). Wakil Menteri (Wamen) II Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo juga menambahkan, penerbitan saham tersebut bertujuan pula untuk mencari kemitraan yang strategis.

“Emiten juga akan akan menargetkan free float atau saham yang dimiliki publik dengan kepemilikan kurang 7,5 persen,” kata Kartika dalam webinar Rabu, 10 Maret 2021.

Selain rights issue, BSI juga mengincar investor global melalui Lembaga Pengelola Investasi (LPI). Emiten hasil merger antara Bank BRISyariah (BRIS), Bank Mandiri Syariah (BSM), Bank BNI Syariah (BNIS) ini ditargetkan menjadi 10 bank syariah terbesar di dunia.

Artinya, BSI kelak akan sejajar dengan Bank Al-Rajhi dan Bank Albilad. Kedua bank itu merupakan bank yang berpusat di Riyadh, Arab Saudi dengan nilai aset masing-masing US$111,3 miliar dan US$23,6 miliar pada 2019.

Hingga kini, BSI memiliki aset sekitar US$15 miliar pascamerger. Sementara itu, Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan perseroan telah menyusun rencana bisnis dalam lima tahun mendatang.

“Untuk memulai langkah, fokus kami ada pada pasar domestik karena potensinya yang luar biasa besar,” ungkapnya.

Potensi masyarakat muslim Indonesia lebih dari 200 juta atau terbesar di dunia. Industri halal pada 2024 diperkirakan sekitar Rp4.800 triliun. Potensi inilah yang akan digarap BSI secara maksimal. (SKO)

Berita Terkait