Baru Berlaku Dua Pekan, Kebijakan GWM Rupiah Serap Rp55 Triliun Likuiditas Perbankan

17 Maret 2022 23:00 WIB

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Rizky C. Septania

Gedung BI (TrenAsia)

JAKARTA -Bank Indonesia mencatat kebijakan kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) Rupiah tahap I dan pemberian insentif GWM sejak 1 Maret 2022 telah menyerap likuiditas perbankan sekitar Rp55 triliun secara neto. Ini membuktikan normalisasi likuiditas perbankan berjalan mulus.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan penyerapan likuiditas melalui kebijakan GWM tersebut tidak mengurangi kemampuan perbankan dalam penyaluran kredit/ pembiayaan kepada dunia usaha dan partisipasi dalam pembelian SBN untuk pembiayaan APBN yang tercermin dari berbagai indikator rasio perbankan. 

“Pada Februari 2022, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tercatat tinggi mencapai 32,72% dan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 11,11% (yoy),” kata dia dalam konferensi pers virtual Kamis, 17 Maret 2022. 

Ditambahkan, ketahanan sistem keuangan perbankan tetap terjaga ditengah perbaikan intermediasi perbankan secara bertahap. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio / CAR) perbankan Januari 2022 tetap tinggi sebesar 25,78%, dan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan / NPL) tetap terjaga, yakni 3,10% (bruto) dan 0,88% (neto).

Intermediasi perbankan terus membaik pada Februari 2022 dibandingkan bulan sebelumnya dengan kredit tumbuh sebesar 6,33% (yoy). Pertumbuhan kredit UMKM juga meningkat sebesar 14,32% pada Februari 2022 (yoy). Pertumbuhan kredit terjadi di berbagai kelompok bank, segmen kredit, dan sektor ekonomi, seiring berlanjutnya pemulihan aktivitas korporasi dan rumah tangga. 

“Pemulihan kinerja korporasi terus berlanjut, yang tercermin dari perbaikan penjualan, kemampuan membayar, dan belanja modal. Sementara itu dari sisi penawaran, standar penyaluran kredit terus melonggar terutama di sektor Industri dan Perdagangan, seiring menurunnya persepsi risiko kredit,” tambah Perry.

Tercatat, suku bunga perbankan terus mengalami penurunan didukung oleh suku bunga kebijakan moneter yang tetap rendah. Suku bunga kredit baru lebih rendah 30 bps (yoy) pada periode yang sama, sejalan dengan perbaikan persepsi risiko perbankan di tengah berlanjutnya pemulihan aktivitas ekonomi.  Sementara suku bunga deposito 1 bulan perbankan telah turun 106 bps sejak Februari 2021 menjadi  2,82% pada Februari 2022.

Bank Indonesia melihat masih ada ruang bagi peran perbankan dalam penyaluran kredit/pembiayaan termasuk melalui penurunan suku bunga kredit dapat ditingkatkan guna semakin mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Digitalisasi Pembayaran

BI mencatat pertumbuhan pembayaran digital dan digital banking kian terakselerasi.

Transaksi uang elektronik misalnya, nilainya tumbuh 41,35% (yoy) mencapai Rp27,1 triliun dan nilai transaksi digital banking meningkat 46,53% (yoy) menjadi Rp3.732,8 triliun per Februari 2022.

Searah, nilai transaksi pembayaran menggunakan kartu ATM, kartu debet, dan kartu kredit juga mengalami pertumbuhan 2,88% (yoy) menjadi Rp596,2 triliun. Di sisi tunai, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) pada Februari 2022 meningkat 12,49% (yoy) mencapai Rp881,5 triliun.

“Inovasi sistem pembayaran terus didorong, melalui akseptasi transaksi BI-FAST, implementasi program SIAP (Sehat, Inovatif, dan Aman Pakai) QRIS untuk mendukung pencapaian 15 juta pengguna baru QRIS pada 2022 serta bersama pemerintah melakukan percepatan digitalisasi pembayaran melalui akselerasi elektronifikasi bansos, transaksi Pemda, dan transportasi,” kata Perry.

Berita Terkait