Banyak Varian, Bagaimana Efektifitas Vaksin Melawan COVID-19? Ini Kata Data PBB

23 Agustus 2021 10:40 WIB

Penulis: Rizky C. Septania

Editor: Rizky C. Septania

JAKARTA – Organisasi kesehatan dunia PBB, WHO, mempublis hasil uji klinis terbaru Pada 10 Agustus 2021, tentang kinerja sejumlah vaksin COVID-19, yang digunakan di dunia menghadapi empat varian virus corona.

Melansir dari trenasia.com, WHO merilis, bahwa secara umum, keempat varian dikenal sebagai variants of concern (VoC) Alpha, Beta, Gamma, maupun Delta, daya tular (transmisibilitas) yang lebih kuat dibanding varian sebelumnya.

Keempat VoC ini juga terbukti bisa meningkatkan risiko keparahan yang lebih tinggi, yang membuat lebih banyak korban dilarikan ke rumah sakit, dan meningkatkan risiko kematian.

Dalam hal risiko reinfeksi, yang terkuat ialah varian Delta dan Beta. Keduanya bisa menerjang sistem antibodi yang terbentuk dari infeksi pertama.Secara ringkas, proteksi vaksin terhadap ke-4 VoC itu, dengan segala keterbatasan data pengujian,  bisa diuraikan varian adalah sebagai berikut. Kinerja vaksin ini mengacu pada hasil vaksinasi pascasuntikan kedua (dosis lengkap) dan dilakukan di lapangan, bukan hasil uji klinis tahap 3 yang sudah banyak dipublikasikan.

Varian Alpha B-117

Secara umum semua vaksin dilaporkan mengalami efek penurunan daya netralisasinya (meredam) aksi virus di dalam tubuh. Penurunannya antara 10-20 persen. Namun, pengaruhnya atas efikasi tak ada laporan yang menyeluruh. Laporan hanya ada pada beberapa merk.

AstraZeneca, misalnya, melaporkan, efikasi terhadap penularan turun 10 persen dan efikasi pada keparahan susut antara 10-20 persen. Tak ada laporan terkait efikasi pada fatalitas (kematian). Moderna dan Pfizer-Biontech juga melaporkan penurunan efikasi pada keparahan (severity) 10 persen.

Varian Beta B-1351
Terhadap serangan Varian Beta daya tangkal vaksin itu menurun lebih jauh. Vaksin Anhui, Beijing-CNBG dan Bharat (India) melaporkan penurunan netralisasi 10-20 persen. AstraZeneca dan Sputnik V mengalami penurunan 20-30 persen.

Bahkan, Moderna, Pfizer-Biontech dan Covavax melaporkan daya tangkal antibodi penggunanya turun lebih dari 30 persen. Namun, laporan efikasi penularan dan tingkat keparahan tidak banyak tersedia.

Pfizer melaporkan efikasinya kepada penularan turun 10-20 persen, dan efikasi keparahan susut 10 persen. Pada saat yang sama, AstraZeneca dan Novavax mencatat efikasinya terhadap keparahan anjlok lebih dari 30 persen.

Varian Gamma
Secara umum tak banyak kajian yang spesifik tentang daya tangkal vaksin terhadap varian Gamma ini. Gambaran yang ada adalah penurunan daya penetralisasi dari mereka yang divaksin genap dua dosis kepada Varian P-1 asal Brazil itu susut antara 10-20 persen. Sinovac (Tiongkok) melaporkan bahwa efikasi untuk penularan pada varian Gamma ini turun 10-20 persen.

Varian Delta
Hampir semua jebol efikasinya oleh varian Delta. Vaksin Sinovac (banyak digunakan di Indonesia) melaporkan penurunan daya netralisasinya sampai di atas 30 , sementara Anhui turun 10-20 persen, dan AstraZeneca anjlok di atas 30 persen.

Moderna dan Janssen-Ad26 merosot 10 persen dan Pfizer susut 10-20 persen. Sayangnya, laporan yang lebih spesifik pun belum tersedia. Lagi-lagi AstraZeneca dan Pfizer-Biontech menunjukkan kepeloporan dalam keterbukaan kinerjanya, dan menyebutkan adanya penurunan efikasi penularan dan keparahan.

Dalam hal efikasi penularan, keduanya mengalami penurunan 10 persen. Namun, dalam hal efikasi keparahan, AstraZeneca susut 20-30 persen, sedangkan efikasi Pfizer merosot 10-20 persen.

 

Tulisan ini telah tayang di potretmanado.com oleh Joise Bukara pada 22 Aug 2021 

Berita Terkait