Banyak Dicari, tapi Supply dan Demand Properti di Jawa Timur Belum Seimbang

13 Agustus 2021 12:29 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Amirudin Zuhri

Penjualan properti diproyeksi bakal bangkit pada semester II-2020 dengan tren lebih sehat dan dekat dengan alam. / Podomoropark.com

JAKARTA - Demografi pasar pencari properti memperlihatkan perubahan yang menarik. Platform properti 99.co melaporkan, Jawa Timur menjadi lokasi pertama sebagai daerah dengan pertumbuhan minat tertinggi.

Sepanjang kuartal II-2021, minat properti di provinsi tersebut bahkan melebihi Banten, Jawa Barat, dan Jabodetabek. Meskipun demikian, tren supply dan demand di Jawa Timur masih belum seimbang. Tercatat, angkanya baru sebesar 7.7% dengan suplai sebesar 16.2%.

Adapun tren suplai properti terbesar, masih terkonsentrasi di dua lokasi utama, yaitu DKI Jakarta (38,6%) dan Jawa Barat (23,1%).

Sementara dari segi harga, properti di bawah Rp400 juta - Rp1 miliar diminati oleh lebih dari 50% konsumen saat ini. Namun, yang menjadi permasalahan adalah demand yang mencapai hampir 60% tidak diimbangi dengan suplai yang beru sebesar 40%.

“Masih belum dapat memenuhi kebutuhan konsumen,” mengutip rilis resmi dari 99.co, Jumat, 13 Agustus 2021.

Properti untuk tujuan investasi

Survei konsumen ini juga menunjukkan perubahan profil pencari properti. Sebanyak 34.5% konsumen mencari properti untuk tujuan investasi. Sementara kelompok pencari yang hanya aktif melihat kondisi pasar berada di urutan kedua dengan persentase sebesar 27%.

Fenomena ini membuktikan bahwa masyarakat mulai menyadari potensi investasi di bidang properti. Seperti diketahui, properti adalah jenis investasi yang tertua dan terlama di dunia.

Properti pun bisa diturunkan ke anak kalau kita tidak ingin memakainya. Contohnya, rumah bisa diserahkan saat anak dewasa atau diwariskan. Bisa juga disewakan. Di samping itu, dari tahun ke tahun harga properti terus meningkat, apalagi jika lokasinya strategis. 

Delapan tahun lalu harga rumah dengan dua kamar tidur Rp350 juta. Kini harganya melambung menjadi Rp1 miliar. Bisa dibayangkan berapa harga rumah itu 10 tahun mendatang.

Maka, bagi konsumen yang tertarik untuk membeli properti, beberapa hal berikut ini harus diperhatikan.

Lokasi

Beberapa tahun yang lalu pemilihan lokasi properti disesuaikan dengan anggaran. Sebagian besar properti dengan harga yang terjangkau terletak di kawasan penyangga Jakarta.

Permasalahan utama ibukota adalah kemacetan. Orang butuh tempat tinggal yang dekat dengan pusat bisnis di tengah kota.

Harga properti di pusat bisnis sungguh fantastis, seperti kawasan Thamrin atau Sudirman yang dihargai kisaran Rp 100 juta per meter persegi.

Tak heran, apartemen yang berada di kawasan superblok menjadi incaran banyak orang karena semua fasilitas tersedia di sana.

Pengembang

Tidak semua properti memiliki pengembang yang bagus. Salah pilih pengembang artinya  uang kita berisiko hilang.

Beberapa kejadian menunjukkan, Ketika direncanakan ada pembangunan apartemen, uang  kita sudah terkumpul, tapi nyatanya tidak pernah terjadi ground breaking.

Seorang kenalan menyampaikan, ia terpaksa merenovasi rumah yang dibelinya tiga tahun lalu lantaran pintu dan jendela di rumah tersebut habis dimakan rayap. Padahal, kondisi rumah itu masih baru saat dibeli.

Jadi kita harus hati-hati. Jangan terpesona dengan harga murah yang ditawarkan pengembang yang tidak kita kenal. Pilih pengembang dengan track record baik.

Akses

Apakah lokasi properti yang kita pilih dekat dengan kantor, sekolah, atau akses kendaraan umum? Kemudian fasilitas yang dimiliki apakah mendukung aktivitas kita?

Setelah mengetahui indahnya investasi di bidang properti, jangan tunda lagi, rencanakan sekarang juga! Ingat harga properti terus meningkat setiap tahunnya.

 

Berita Terkait