Bantu Pemerintah Tangani COVID-19, Total Donasi PT Timah Capai Rp29,9 Miliar

08 September 2021 21:31 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Rizky C. Septania

Kantor PT Timah di kawasan Gambir Jakarta Pusat (Panji Asmoro/TrenAsia)

JAKARTA -- Di tengah tekanan keuangan akibat pandemi COVID-19 dan pembatasan, PT Timah Tbk (TINS) masih membuka pintu donasi untuk membantu pemerintah menangani COVID-19. Tercatat, total bantuan emiten pengembang timah ini mencapai Rp29,9 miliar dalam setahun terakhir.

"Total realisasi bantuan penanganan COVID-19 sekitar Rp29,9 miliar untuk periode tahun 2020 sampai dengan Juni 2021," ujar Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TINS Wibisono dalam acara Public Expose Live 2021, Rabu, 8 September2021.

Dia menjelaskan bahwa untuk paket sembako tercatat sebanyak 21.741 paket yang telah disalurkan. Kemudian, bantuan alat pelindung diri (APD) sebanyak 8.851 paket.

Selanjutnya, bantuan masker total mencapai 154.332 buah. Rinciannya: masker kain sebanyak 30 ribu buah, masker N95 sebanyak 12.980 buah dan masker 3 ply 100.352 buah.

Wibisono menambahkan, perusahaan juga menyalurkan bantuan 5.180 literdisinfektan, 18,151 botol handsanitizer, 300 unit tedmon & portable westafel, serta 11 unit safe house.

Selain itu, perseroan juga mendonasikan 13 unit ventilator dan 3 unitX-Ray Portabel, swab testdan obat-obatan.

Tidak hanya itu, perusahaan berbasis Pangkal Pinang, Bangka Belitung ini menyumbang 4 ruang negative pressure HVAC System, 64 ruang NPRG, 1 laboratorium PCR dan 2 ruang operasi khusus COVID-19.

Menjaga Profitabilitas Keuangan

Wibisono mengatakan perusahaan terus menjaga profitabilitas keuangan dengan mendorong efisiensi operasional.

Strategi tersebut dilakukan mengingat produktivitas dan penjualan perusahaan terkontraksi cukup dalam selama semester pertama tahun 2021.

"Kita melakukan pengelolaan tambang yang efisien dan yang bisa memberikan kontrbusi terhadap Gross Profit Margin (GPM) perseroan," ujar Wibisono.

Saat ini, TINS memiliki rasio profitabilitas yang sehat, hal mana terlihat dari rasio GPM sebesar 19%, meningkat dari triwulan II tahun 2020 sebesar 3% dan rasio NPM (Net Profit Margin) sebesar 5%, naik dari triwulan II-2020 yang terkontraksi 5%.

Adapun rasio DER (Debt to Equity Ratio) triwulan II tahun 2021 TINS sebesar 103%. Rasion ini berhasil menyusut dibandingkan periode akhir tahun 2020 sebesar 142%.

Sementara, hutang bank jangka pendek berhasil diturunkan dari Rp3,8 triliun pada akhir tahun 2020 menjadi Rp2,2 triliun.

Jumlah utang bank dan obligasi TINS pada semester satu tercatat menurun sebesar 27% menjadi Rp4,33 triliun dari Rp5,89 triliun pada periode tahun lalu.

Wibisono mengatakan bahwa selama kurun waktu setengah tahun ini, produktivitas dan penjualan TINS terdepresiasi cukup dalam.

Produksi bijih timah tercatat sebanyak 11.467 ton, turun 54% dari 25.081 ton pada periode yang sama tahun lalu. Demikian halnya dengan produksi logam timah menurun 57% dari 27.833 ton menjadi 11.915 ton.

Dari sisi pemasaran, penjualan logam timah tercatat turun sebesar 60% dari 31.508 ton menjadi 12.523 ton. Meski demikian, TINS terbantu dengan harga timah global yang naik sebesar 69% dari US$16.461 per metrik ton menjadi US$27.858 per metrik ton.

Penurunan penjualan ini menyebabkan pendapatan perusahaan turun 27% dari Rp8,03 triliun menjadi Rp5,87 triliun.

Meski penjualan komoditas turun, laba perusahaan sebelum bunga, pajak, dan amortasi melesat menjadi Rp1,04 triliun, tumbuh 298,8% dari periode tahun lalu sebesar Rp348 miliar.

Kemudian laba operasi tumbuh 378% dari minus Rp227 miliar tahun lalu menjadi Rp630 miliar pada semester I-2021. Sementara, laba bersih tercatat naik 169% dari minus Rp390 miliar menjadi Rp270 miliar.

Demikian halnya dengan arus kas operasi naik signifikan menjadi Rp2,58 triliun dari Rp620 miliar periode tahun lalu.*

Berita Terkait