Bantah Deforestasi Akibat Sawit, Menlu Retno Minta UE Bersikap Adil

JAKARTA – Menteri Luar Negeri meminta Uni Eropa (UE) untuk bersikap adil dalam memperlakukan minyak kelapa sawit.

Diketahui, Komisi UE pada Maret 2019 meloloskan aturan pelaksanaan atas Renewable Energy Directive/ RED II. Dalam dokumen tersebut, Komisi UE menyimpulkan kelapa sawit mengakibatkan deforestasi besar-besaran secara global dan berencana menghapus secara bertahap penggunaan kelapa sawit hingga 0% pada 2030.

“Indonesia tidak mengorbankan kelestarian lingkungan hanya untuk mengejar pembangunan ekonomi,” kata Retno dalam Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN dan Uni Eropa ke-23 secara virtual, Selasa, 1 Desember 2020.

Retno membandingkan, hasil kelapa sawit jauh lebih efektif dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Dari penggunaan lahan, kelapa sawit hanya memakan 17 juta hektar, sementara minyak nabati lainnya 278 juta hektar.

Sebagai penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, Asia Tenggara memasok 89% kebutuhan global. Besarnya industri ini juga menghasilkan 26 lapangan pekerjaan turunannya.

Dari segi tenaga kerja, 40% perkebunan kelapa sawit di kawasan ASEAN dikelola oleh petani kecil. Di Indonesia, industri kelapa sawit berperan menekan angka kemiskinan hingg 10 juta jiwa dan menyumbang devisa US$23 miliar pada 2019.

Lebih lanjut Retno mengatakan, minyak kelapa sawit memegang peran penting dalam meraih target pembangunan berkelanjutan. Untuk meningkatkan pemahaman, telah disepakati Joint Working Group (JWG) yang akan membahas minyak nabati dalam konteks berimbang dengan kelapa sawit.

Rencananya, forum tersebut bakal dihelat pada Januari 2021. “Saya menyambut baik rencana penyelenggaraan pertemuan JWG. Ini untuk menjembatani kebijakan yang lebih baik serta rasa percaya terhadap industri kelapa sawit yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.”

Tags:
DeforestasiHeadlineindustri sawitkelapa sawitmenluRetno Marsudiuni eropa
Ananda Astri Dianka

Ananda Astri Dianka

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: