BANKING EVERYWHERE: Neobank dan Sejarah Bank Digital (Part 3 - Habis)

28 Januari 2022 18:17 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

Ilustrasi bank digital di Indonesia. (Infografis: Deva Satria/TrenAsia)

BANKING EVERYWHERE -- Belum lama era bank digital muncul di dunia. Begitu pula dengan digitalisasi perbankan yang memungkinkan bank bisa melayani nasabah secara elektronik dimanapun seperti saat ini.

Transformasi digital memang telah menjadi tren penting di perbankan dalam kurun lebih dua dekade terakhir. Seperti hal dampaknya pada domain bisnis lainnya, teknologi secara bertahap membentuk kembali industri jasa keuangan di segala aspek termasuk bank.

Di dunia, era digital banking hampir dimulai bersamaan dengan hadirnya internet yang ditemukan pada tahun 1960. Pada mulanya internet (interconnected network) hanya digunakan untuk proyek Departemen Pertahanan atau militer Amerika Serikat (AS) semata yang diketuai oleh Joseph Licklider.

Program e-mail atau surat elektronik adalah cikal bakal dari aktivitas elektronik dunia. E-mail dicetus pada tahun 1972 oleh Roy Tomlinson yang merupakan penyempurnaan dari program buatannya sebelumnya yaitu Arpanet atau Advanced Research Project Agency Network.

E-mail mendapat sambutan yang luas dan langsung populer di masyarakat. Pada tahun yang muncul ikon @ sebagai lambang untuk menujukkan "at" atau "pada" dalam e-mail.

Baru pada tahun 1994, virtual shopping, online shopping atau e-retail muncul di internet. Bersamaan dengan itu muncul Yahoo! sekaligus lahirnya Netscape Navigator 1.0. Ini merupakan peramban web yang terkenal dan paling banyak digunakan sebelum kemunculan Internet Explorer dari Microsoft milik Netscape Corporation.

Netscape Navigator inilah yang kemudian menjadi gagasan bagi munculnya peramban Mozilla Firefox pada 1999 yang kemudian diperbaharui lagi menjadi Chrome pada 2008. 

Chrome pertama kali dirilis untuk Microsoft Windows, kemudian di-porting ke Linux, macOS, iOS, dan Android yang menjadikannya sebagai peramban bawaan dalam sistem operasi sampai sekarang.

BANKING EVERYWHERE: Awal Mula Bank Digital

ICICI Bank India / Dok. ICICI Bank

Dalam periode kebangkitan teknologi internet inilah sebuah sejarah tercipta di India. Perbankan digital mulai terbentuk pada akhir 1990-an dengan ICICI Bank menjadi yang pertama menghadirkan layanan tersebut kepada klien ritel mereka.

Perbankan digital menjadi arus utama hanya pada tahun 1999 karena biaya internet berkurang dan ada peningkatan kesadaran dan kepercayaan sehubungan dengan internet. Sebelumnya, pada Januari 1997, layanan perbankan online pertama diluncurkan oleh Sumitomo Bank.

Baru pada tahun 2010, sebagian besar bank besar menerapkan layanan perbankan online, namun jenis layanan yang ditawarkan bervariasi. Menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh Asosiasi Bankir Jepang (JBA) pada tahun 2012,  sebanyak 65,2% adalah pengguna internet banking pribadi. Artinya, belum terlayani secara publik kepada nasabah.

Dilansir dari The Financial Brand, salah satu penanda penting transformasi digital banking adalah setelah munculnya iPhone pada tahun 2007 yang diproduksi Apple Computer Inc milik Steve Jobs. Kemunculan Iphone berselang tiga tahun setelah Mark Zuckerberg menciptakan platform media sosial seperti Facebook, Instagram, Youtube pada 2004.

Namun dengan adanya Iphone milik Apple, secara serentak mengubah industri perbankan selamanya. Tentu, beberapa bank internet sudah ada jauh sebelum itu, tetapi produk Apple secara radikal mengubah kebiasaan konsumen hampir dalam semalam.

Tidak butuh waktu lama bagi para inovator untuk mengetahui bahwa smartphone dapat membuat perbankan digital lebih menarik dan lebih luas jangkauannya.

Pada era ini, muncul beberapa bank digital di dunia, seperti Simple yang merupakan neobank AS yang berbasis di Portland, Oregon pada 2009. Simple harus diakui sebagai neobank pertama di dunia.

Bank ini menyediakan rekening giro yang diasuransikan Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) kepada warga negara AS, tetapi tidak kepada penduduk permanen, melalui kemitraan dengan The Bancorp Bank sebelum beralih ke BBVA USA pada 2016.

FDIC bertugas layaknya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Indonesia. FDIC adalah lembaga independen yang dibentuk oleh Kongres AS untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan publik terhadap sistem keuangan negara. FDIC menjamin simpanan, memeriksa dan mengawasi lembaga keuangan untuk keamanan, kesehatan, dan perlindungan konsumen; membuat lembaga keuangan besar dan kompleks dapat diselesaikan; dan mengelola kurator.

Pada tahun yang sama, muncullah Ally Bank di AS dengan kantor pusat di Detroit, Michigan. Pada 2018, Ally Bank berada di peringkat ke-19 dalam daftar bank terbesar di AS berdasarkan aset dan perusahaan pembiayaan mobil terbesar di AS berdasarkan volume serta melayani sekitar 18.500 diler otomotif dan 4,3 juta konsumen ritel.

Kemudian muncul pula Moven, sebuah bank digital di AS pada 2010. Tujuan pendiriannya adalah menciptakan pengalaman tanpa gesekan yang bekerja dengan konsumen. Bank-bank digital terus bermunculan dan sekarang sudah ada ratusan di seluruh dunia.

Dipicu Teknologi 3G

Menara telekomunikasi alias BTS milik PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel), anak usaha BUMN Telkom / Mitratel.co.id

Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) periode 2005-2007 Arwin Rasyid mengatakan pesatnya perkembangan digital banking atau layanan perbankan berbasis digital di dunia dipicu oleh transfromasi teknologi internet yang memasuki generasi ketiga atau 3G pada abad ke-21.

Di Barat, era 3G muncul pada sekitar tahun 2004, yang menandai lahirnya Facebook, Instagram, Youtube, dan lainnya. Sementara di Indonesia, era 3G baru masuk pada tahun 2006, dan selanjutnya di tiap negara di dunia memiliki masa perubahan yang berbeda.

"Waktu 3G muncul itu menjadi game changer. Dia mengubah perilaku kita secara keseluruhan. Sebelum adanya 3G, orang tahu saja HP (handphone/ponsel) itu alat komunikasi menggantikan fixed line yang masuk 2G dan bersifat analog. Waktu muncul 3G, muncul segala sesuatu, jasa-jasa, di mana internet ada di genggaman tangan," katanya ketika diwawancarai TrenAsia.com di Kawasan SCBD Jakarta pada Senin, 11 Januari 2022.

Dia mengatakan, generasi ketiga teknologi internet atau 3G disebut memiliki kecepatan internet yang sangat tinggi. Menurut dia, antara 3G dan 4G sebetulnya tidak ada perbedaan mendasar. Karena 4G hanya merupakan modifikasi dari 3G.

Menurut dia, 3G-lah yang membuat perubahan dunia teknologi hingga menjamurnya aplikasi financial technology (fintech), e-commerce, ride hailing (Gojek, Grab, Uber), dan layanan jasa online lainnya yang bertumbuh hingga kini.

Adapun, secara teknis 3G disebut mampu mentransfer data dengan kecepatan tinggi (high-speed) dan aplikasi multimedia, untuk pita lebar (broadband). Sementara 4G merupakan pengembangan dari teknologi 3G.

Jika 3G memiliki kecapatan transfer data 500-700 kilo byte per second (kbps), 4G bertambang menjadi 3,5 mbps. Sedangkan 5G disebut-sebut memiliki kecepatan 1 gbps. Nama resmi dari teknologi 4G menurut IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) adalah "3G and beyond".

Sebelum 4G, High-Speed Downlink Packet Access (HSDPA) yang kadangkala disebut sebagai teknologi 3,5G telah dikembangkan oleh WCDMA sama seperti EV-DO mengembangkan CDMA2000.

HSDPA adalah sebuah protokol telepon genggam yang memberikan jalur evolusi untuk jaringan Universal Mobile Telecommunications System (UMTS) yang akan dapat memberikan kapasitas data yang lebih besar (sampai 14,4 Mbit/detik arah turun). HSDPA sendiri memiliki kecepatan akses data hingga 480 kbps, dan tergantung pada jenis teknologi yang dipakai.

Sementara itu, teknologi 1G hanya memiliki kecepatan data 14,4 kpbs dan 2G sebesar 9-14,4 kbps. Pada era 1G, hampir seluruh sistem merupakan sistem analog dengan kecepatan rendah (low-speed) dan suara sebagai objek utama. Kemudian, 2G dijadikan standar komersial dengan format digital, kecepatan rendah-menengah.

Jaringan 1G pertama kali ditemukan di tahun 1980 ketika AMPS (Advanced Mobile Phone Service) atau IS-136 di AS bekerjasama dengan TACS dan NMT di Eropa membuat terobosan di teknologi jaringan.

Zaman inilah yang menandai era teknologi pertama. 1G merupakan teknologi handphone yang menggunakan sistem analog.

Kemudian pada awal tahun 1990-an untuk pertama kalinya muncul teknologi jaringan seluler digital yang hampir bisa dipastikan memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan teknologi jaringan analog seperti suara lebih jernih, keamanan lebih terjaga dan kapasitas yang lebih besar.

Arwin Rasyid, yang saat ini menjadi Founder dan Chairman TEZ Financial Group berbasis Jakarta itu mengatakan pada era 2G muncul merk handphone (HP) seperti Nokia, Blackberry yang sempat merajai pasar ponsel dunia setelah tahun 2004.

Namun ketika teknologi internet 3G muncul, dengan cepat Iphone dkk melindas beberapa merk HP sebelumnya karena tidak menggunakan teknologi terbaru yaitu 3G.

Dia menegaskan bahwa pada prinsipnya teknologi internet 3G-lah yang menjadi peletak dasar disrupsi teknologi yang masih berlangsung hingga saat ini di dunia.

BANKING EVERYWHERE: Era Start Up

Mitra Driver Gojek menunggu customer di dekat logo Bank Jago di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa, 16 Februari 2021. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

Di Indonesia, era 3G ini dimulai dengan pendirian start up e-commerce seperti Tokopedia (2009), Bukalapak (2010), Gojek (2010). Ketiga e-commerce inilah yang kiranya menggerakan perkembangan teknologi di Indonesia secara keseluruhan. Kemudian sekarang ada fintech seperti Kredivo, OVO, Dana, dan masih banyak lagi.

Sebelum adanya 3G, memang orang bisa telepon atau menonton video di Youtube, tetapi hal itu tidak bisa dilakukan di HP. Semuanya hanya bisa dilakukan melalui desktop dengan kualitas rendah. Pada era ini, kualitas video belum sebagus sekarang yang resolusinya sudah high definition (HD).

Namun, jauh sebelum itu, yang tak perlu dilupakan juga adalah pendirian Kaskus, pusat perbelanjaan online pertama di Indonesia yang dirintis Andrew Darwis pada 1999 yang kemudian disusul dengan Bhinneka.com.

Arwin menandaskan bahwa memang hampir terjadi di seluruh dunia, sebelumnya adanya digital banking, yang pertama kali muncul adalah fintech dan e-commerce.

Sampai tahun 2021, jumlah fintech di dunia telah mencapai sekitar 15.000 unit. Di Indonesia, menurut data OJK, jumlah fintech telah mencapai lebih dari 100 unit.

"Itu semua diawali oleh fintech," katanya.

Sementara untuk digital banking, kata dia, pertama kali diinisiasi oleh PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) atau CIMB Niaga pada tahun 2011. Bank ini didirikan pada 1955.

Salah satu platfrom digital yang diluncurkan CIMB Niaga bernama OCTO Mobile. Ini merupakan super app yang dilengkapi dengan fitur-fitur layanan pendukung sehingga nasabah bisa melakukan beragam aktivitas secara mandiri langsung dari ponsel. Layanan tersebut di antaranya tabungan, transaksi, investasi, dan pinjaman.

Lebih dari itu, aplikasi serba bisa ini juga terus ditingkatkan untuk dapat melayani kebutuhan gaya hidup nasabah. Salah satunya, melalui fitur Travel Concierge.

Melalui fitur ini, nasabah dapat membeli tiket pesawat yang bisa dicicil mulai dari 3 hingga 12 bulan dengan bunga mulai dari 0 persen. 

Bahkan melalui aplikasi ini, kata Arwin, orang bisa mengirimkan uang melalui HP menggunakan nomor kartu SIM sebagai virtual account (VA) dan tidak lagi menggunakan nomor rekening bank.

"Melalui OCTO Mobile nomor HP sudah digunakan sebagai virtual account untuk transaksi keuangan," ungkap Arwin.

Sebelum adanya aplikasi khusus, layanan digital perbankan, terutama di generasi 1G dan 2G bisa dilakukan melalui internet banking atau kartu elektronik yang diterbitkan oleh bank untuk melakukan transaksi melalui anjungan tunai mandiri (Automatic Teller Machine/ATM).

Arwin mengatakan di masa depan layanan perbankan digital akan lebih canggih dengan kehadiran teknologi 5G. Pada periode ini, layanan perbankan bisa dilakukan secara virtual dengan menggunakan teknologi virtual reality (VR) dan augmented reality (AR).

Hal ini ditunjang pula dengan kehadiran teknologi metaverse yang diluncurkan oleh pendiri Facebook Mark Zuckerberg pada Oktober 2021 lalu. Teknologi metaverse diarahkan menjadi platform masa depan yang mengembangkan jaringan sosial dan bisnis.

Arwin mengatakan akan ada suatu masa di mana nasabah dilayani secara virtual. Nasabah tidak perlu lagi datang ke kantor atau melakukan transaksi melalui aplikasi mobile, melainkan mereka akan berinteraksi dengan institusi bank di ruang virtual. 
Interaksi ini bisa dilakukan baik oleh bank digital maupun oleh bank umum.

Namun yang ditonjolkan bank-bank di periode 5G adalah pengalaman nasabah dalam merasakan dan mengalami layanan perbankan digital. Bank yang berhasil menciptakan nasabah loyal tentu akan keluar sebagai pemenang di pasar.

Hal itu karena tujuan akhir dari transformasi digital adalah untuk memahami dan memenuhi kebutuhan pelanggan, misalnya, aplikasi seluler menjadi alat universal apakah klien perlu membayar tagihan, mentransfer uang secara online, mengajukan pinjaman, atau menerima informasi dengan satu sentuhan tombol di smartphone.

Tingkat kenyamanan ini membantu bank mempertahankan strategi retensi pelanggan yang andal, mengurangi biaya yang terkait dengan menarik pelanggan baru, memfasilitasi orientasi dan dengan demikian meningkatkan pendapatan.

"5G itu akan memperkaya user experience," ungkap Arwin, yang pernah menjabat sebagai Dirut CIMB Niaga (2008-2015).

Era Bank Digital

Ilustrasi bank digital di Indonesia. Infografis: Deva Satria/TrenAsia

Perilaku nasabah pada masa kini telah berubah begitu jauh. Industrialisasi media dan teknologi membawa generasi milenial menjadi kelompok demografi terpenting.

Mau tidak mau, pemain bank tradisional terdorong untuk memperkenalkan solusi digital yang inovatif dan kompetitif untuk memastikan kelangsungan pasar jangka panjang, terutama menggaet milenial.

Transformasi digital mengandaikan adanya perubahan budaya, organisasi dan operasional melalui teknologi. Dalam pengertian yang paling mendasar, transformasi digital adalah transisi ke layanan pelanggan digital melalui internet.

Dalam arti yang lebih luas, transformasi digital berarti peningkatan di berbagai bidang yang terkait dengan penawaran, otomatisasi proses, pengalaman pelanggan, integrasi data, fleksibilitas organisasi, dan penjualan.

Krisis yang didorong oleh pandemi COVID-19 sejak 2020 hanya meningkatkan urgensi. Menurut survei, sebanyak 69% dewan direksi mengatakan pandemi dan krisis ekonomi mempercepat inisiatif digital mereka.

Namun demikian, tidak mudah bagi bank tradisional melakukan ekspansi ke bisnis digital. Butuh modal yang tidak kecil. Demikian halnya dengan kematangan sumber daya manusia (SDM) alias human capital.

Di tengah gelombang pergeseran ke ranah digital, beberapa pemain non bank membentuk bank-bank digital.

Mereka ingin hadir sebagai bank-bank yang benar-benar fully digital. Dengan menjadi bank digital, berarti mereka secara pembiayaan dan SDM sudah memadai.

Di dunia, sudah banyak bank digital. Salah satunya yang terbaik adalah DBS Bank (2016). Kemudian ada NuBank di Brasil (2013), Chime di AS (2013), Sofi di AS (2011), Tinkoff di Rusia (2006), atau Revoult di Inggris (2015).

Di Indonesia, ada beberapa nama bank digital. Yang disebut-sebut paling pertama adalah Jenius milik Bank BTPN yang kini sedang mengajukan izin ke OJK.

Kemudian ada Bank Jago milik Jerry Ng, Allo Bank milik konglomerat Chairul Tanjung, dan Bank Fama milik Grup Emtek serta Seabank milik Sea Group, perusahaan induk Shopee.

Menurut Arwin Rasyid, bank digital adalah bank yang tumbuh melakukan pelayanan jasa keuangan yang berdasarkan teknologi sehingga tidak perlu lagi ada kantor cabang.

Seperti aktivitas pada bank tradisional, orang-orang bisa membuka rekening mereka melalui perangkat di smartphone, kemudian mengecek saldo, mengisi saldo, melakukan pembayaran, transfer ke luar negeri dan masih banyak lagi layanan bank lainnya.

"Ini bank-bank melayani keuangan secara digital. Dan semuanya melalui perangkat HP," terang Arwin yang pernah ditunjuk sebagai staf ahli di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) pada tahun 1999.

Menurut Peraturan OJK (POJK) Nomor 12/POJK.03/2021 Bab IV, bank digital adalah Bank Berbadan Hukum Indonesia (BHI) yang menyediakan dan menjalankan kegiatan usaha yang utamanya melalui saluran elektronik tanpa kantor fisik selain kantor pusat (KP), atau dapat menggunakan kantor fisik yang terbatas. Mereka pun dapat beroperasi melalui dua jenis model.

Pertama, mendirikan bank baru sebagai bank digital. Atau kedua, tranformasi dari bank tradisional menjadi bank digital. Artinya, bank eksisting saat ini bisa dikonversi menjadi bank digital dengan memenuhi sejumlah syarat dan ketentuan. Untuk pendirian bank baru, OJK mewajibkan investor pengendali menyediakan modal inti minimum Rp10 triliun.

Menurut Arwin, bank-bank tradisional bisa melakukan transisi menuju bank digital. Namun hal itu tidak bisa dilakukan dalam waktu yang sangat cepat. Selain karena pertimbangan pengangguran karena terjadi penutupan kantor cabang di seluruh Indonesia, tetapi juga pertimbangan ketersediaan SDM dan teknologi.

Belum lagi, bank-bank tradisional besar seperti Bank Mandiri, Bank BNI dan Bank BRI, yang merupakan bank milik pemerintah, sudah memiliki nasabah loyal yang tidak bisa berpindah dalam waktu singkat. Dengan kata lain, bank-bank tradsional tidak akan punah.

Karena itu, ketika fintech yang paham teknologi memasuki pasar, bank-bank besar mulai menuai manfaat dari mengadopsi teknologi. Bank harus menggunakan teknologi untuk mengubah produk, menarik nasabah, memberdayakan karyawan, dan mengoptimalkan operasinya.

Transformasi digital menjadi kesempatan untuk menata kembali layanan keuangan, menjadikan bank sebagai pusat pelanggan, mengaktiviasi kreasi dan inovasi, dan siap menghadapi masa depan.

Namun demikian, Arwin mewaspadai bahwa akan terjadi pada suatu waktu di masa depan, di mana bank-bank digital yang menjamur akan mengerucut pada 2-3 pemain besar. Seperti halnya terjadi di negara-negara lain yang umumnya hanya memiliki 1-2 bank digital besar dengan kinerja bagus.

Menurut dia, perkembangan bank digital akan sangat bergantung pada sumber daya keuangan yang dimiliki pemiliknya untuk menopang inovasi teknologi.

"Karena intinya siapa di antara bank-bank itu yang bisa memanfaatkan teknologi secara tepat," ungkap Arwin.

Baca Juga: 

BANKING EVERYWHERE: Neobank dan Sejarah Bank Digital (Part 1)

BANKING EVERYWHERE: Neobank dan Sejarah Bank Digital (Part 2)

Bank Digital Dibahas Warganet di Twitter, Seperti Apa?

Berita Terkait