Bank Neo Commerce Ungkap Alasan di Balik Raihan Rugi Bersih Rp132,85 Miliar

08 September 2021 12:07 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

PT Bank Neo Commerce Tbk. resmi menjadi Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) II, setelah melakukan penambahan modal atau right issue Rp150 miliar pada Juli 2020. Dengan perubahan status tersebut, perseroan akan melakukan transformasi digital dengan sasaran pasar milenial. / Perseroan

JAKARTA – Transformasi menjadi bank digital membuat profitabilitas PT Bank Neo Commerce Tbk rontok. Emiten bersandi BBYB ini harus menelan kerugian hingga Rp132,85 miliar pada paruh pertama tahun ini.

Direktur Utama (Dirut) Bank Neo Commerce Tjendra Gunawan mengakui transformasi tersebut rupanya cukup menguras kantong perusahaan.

“Kami menyadari tentang kerugian yang dialami, namun perlu diingat kembali bahwa BNC sedang dalam proses transformasi dari konvensional ke digital. Sehingga, hampir seluruh modal perusahaan digunakan untuk belanja modal dan investasi terutama untuk teknologi dan promosi,” ucap Tjendra dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, 8 September 2021

Sebelum bertransformasi menjadi bank digital, BBYB masih mampu membukukan laba bersih Rp19,32 miliar pada semester I-2020. Kini, beban operasional yang melonjak 172% year on year (yoy) membuat raihan pendapatan tergerus sepenuhnya.

Total beban operasional BBYB melesat dari Rp100,27 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp277,020 miliar pada semester I-2021. Adapun pendapatan bunga bersih Bank Neo Commerce sebesar Rp112,75 miliar tidak dapat menutupi boncos-nya beban operasional tersebut.

Jika dirinci, pendapatan bunga bersih yang diraih Bank Neo Commerce merangkak naik 21% yoy dari Rp92,83 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp112,75 miliar pada semester I-2021. Meski ditambah pendapatan operasional sebesar Rp31,69 miliar, BBYB tidak kuasa untuk menutup pengeluaran besar dari pos beban operasional.

Selain itu, masuknya BBYB dalam ekosistem Akulaku membuat Tjendra yakin profitabilitas perseroan bisa kembali meningkat. Menurutnya, ekosistem dengan jaringan yang luas itu memberikan kesempatan bagi BBYB untuk memperkuat fungsi intermediasi.

“Bank Neo Commerce yang menjadi bagian dari Akulaku itu menjadi suatu modal untuk bisa membukukan profit dan memaksimalkan dana yang ada untuk disalurkan ke aset yang produktif,” kata Tjendra.

Dengan aplikasi Neo+, perseroan membidik target masuk dalam 5 top of mind bank digital di Indonesia. Kerja sama dengan Akulasku dityakini semakin menopang bisnis digital Bank Neo Commerce di tengah semakin ramainya pemain industri tersebut.

Untuk diketahui, PT Akulaku Silvrr Indonesia menjadi pemegang saham pengendali (PSP) di BBYB pada Oktober 2021 dengan komposisi kepemilikan mencapai 24,98%. Lalu, ada PT Gozco Kapital yang menggenggam 16,53% saham BBYB.

Intermediasi Menguat

Meski belum mampu mencetak laba, kinerja intermediasi BBYB sebetulnya mengalami penguatan. Hal ini tercermin dari penyaluran kredit sebesar Rp3,82 triliun atau naik dibandingkan akhir 2020 yang hanya Rp3,66 triliun.

Kredit segmen rumah tangga tampaknya masih menjadi menjadi andalan utama BBYB. Segmen kredit ini mengalami peningkatan hingga 25% year to date (ytd) dari Rp1,8 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp2,33 triliun pada semester I-2021.

Kredit segmen rumah tangga menguasai 60% dari postur kredit di Bank Neo Commerce. Segmen lainnya yang mencolok pada penyaluran kredit BBYB adalah, perdagangan besar dengan realisasi sebesar Rp1,32 triliun pada semester I-2021.

Ditinjau dari kualitas kredit, total kredit macet BBYB mengalami peningkatan dari Rp133,08 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp162,28 triliun pada semester I-2021.

Maka, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) net BBYB parkir di level 4,2%. Adapun NPL gross BBYB per semester I-2021 ini mencapai 11%.

Nilai NPL yang tinggi ini tidak lepas dari upaya restrukturisasi yang masih dihadapi BBYB. Jumlah kredit yang telah direstrukturisasi dan dalam kategori kredit bermasalah per 30 Juni 2021 mencapai Rp17.922.826.158.

Sementara itu, nominal kredit yang mendapat perpanjangan jangka waktu dan penurunan suku bunga kredit di BBYB pada semester I-2021 mencapai Rp280,15 miliar. Adapun Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) Bank Beo Commerce per Juni 2021 mencapai Rp97,47 miliar. 

Di sisi lain, Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) BBYB meroket 38,55% ytd menjadi Rp4,60 triliun. Secara kumulatif, aset BBYB hingga semester I-2021 ini pun terungkit dari Rp5,42 triliun pada posisi akhir 2020 menjadi Rp,699 triliun pada semester I-2021.

Rupanya, peningkatan aset ini juga dibarengi dengan pertumbuhan pada pos liabilitas. Total liabilitas BBYB naik 33% ytd dari Rp4,30 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp5,75 triliun pada semester I-2021.

Peningkatan signifikan juga dicatatkan pada pos kas dan setara kas. Jumlah kas dan setara kas di BBYB melesat 123,3% year on year (yoy) dari Rp331,93 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp741,24 miliar pada semester I-2021.

“Dengan produk dan layanan yang kami miliki, disisi lain juga aplikasi mobile bank kami, Neo+ yang sudah diunduh sebanyak 6 juta kali. Adalah suatu hal yang memungkinkan bagi kami untuk berproses menjadi bank digital yang lebih lagi karena kami sudah memiliki produk dan layanan dan juga user yang sudah ada dan akan berkembang lagi,” ujar Tjendra

Berita Terkait