Bank Mandiri Bidik Penyaluran Kredit Melesat 13%, Apa Penyebabnya?

25 Agustus 2021 10:15 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Karyawati menunjukkan kartu debit ATM dengan chip di kantor cabang Bank Mandiri Edu-Branch, Pondok Indah Mall 1, Jakarta, Kamis, 18 Februari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Emiten pelat merah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membidik penyaluran kredit secara konsolidasian double digit 11-13% secara tahunan (year on year/yoy) pada tahun ini. Penyaluran kredit itu masih dimotori oleh entitas bank only, yakni mencapai 6%-7%.

Corporate secretary Bank Mandiri Rudi As Aturridha menilai pemulihan ekonomi yang berjalan on track pada tahun ini diyakini bakal mengungkit fungsi intermediasi perseroan. Tidak heran, Bank yang fokus pada penyaluran kredit korporasi ini memang target jumbo pada tahun ini.

“Dengan momentum pemulihan ekonomi, Bank Mandiri menilai ruang pertumbuhan kredit di tahun 2021 masih terbuka. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dan regulator yang menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil,” jelas Rudi saat dihubungi Trenasia.com, Rabu, 25 Agustus 2021.

Bank berlogo pita kuning ini meraih kinerja yang tidak mengecewakan pada paruh pertama 2021. Secara konsolidasian, penyaluran kredit Bank Mandiri tumbuh 16,4% yoy menjadi Rp1.014,3 triliun.

Segmen wholesale banking masih jadi primadona di Bank Mandiri dengan membukukan realisasi penyaluran kredit sebesar Rp534,2 triliun atau 52,6% dari total kredit. Adapun penyaluran segmen kredit Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tumbuh agresif 20,01% yoy menjadi Rp98,3 triliun.

Secara bank only, Bank Mandiri membukukan penyaluran kredit 3,97% Rp997,78 triliun atau tumbuh 13,97% year to date (ytd). Pada semester I-2021, Bank Mandiri pun merealisasikan pendapatan Rp48,11 triliun atau tumbuh tipis 4,46% dari posisi semester I-2020.

Emiten bersandi BMRI ini kemudian mencetak laba bersih senilai Rp12,50 triliun pada. Tumbuh 5,68% dibandingkan dengan laba bersih BNI pada semester I-2020 senilai Rp10,29 triliun.

Dalam menjaga profitabilitas, Bank Mandiri menilik potensi pendapatan dari fee based transaksional. “Kami juga mendorong pertumbuhan fee based income terutama yang bersumber dari fee based transaksional,” jelas Rudi.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan operasional Bank Mandiri mampu tumbuh 5,1% yoy menjadi Rp13,43 triliun dari sebelumnya Rp12,77 triliun.

Dari nilai itu, pendapatan dari provisi dan komisi berkontribusi 58% atau setara Rp7,50 triliun. Pendapatan pada segmen transaksi e-channel tercatat tumbuh paling agresif, yakni dari Rp1,2 triliun pada semester I-2020 menjadi Rp1,45 triliun pada semester I-2021.

Dalam menggenjot pendapatan yang bertumpu pada komisi tersebut, Bank Mandiri terus mendorong digitalisasi layanan transaksi. Hal ini tercermin dari upaya perseroan platform transaksi bernama Electronic Data Capture (EDC)

Platform yang baru diluncurkan pada Selasa, 24 Agustus 2021 itu diharapkan bisa menjadi mengoptimalkan pendapatan komisi Bank Mandiri.

Per Juli 2021, sudah ada 150.000 merchant yang sudah digandeng Bank Mandiri untuk layanan ini. Adapun jumlah EDC yang sudah tersebar mencapai 218.000 unit. Dari jumlah tersebut, Bank Mandiri mencatatkan volume penjualan sebesar Rp62 triliun pada Juli 2021.

Capain itu mengalami pertumbuhan sebesar 13% yoy . Di samping itu Mandiri EDC mencatatkan transaksi sebanyak 104 juta kali di posisi Juli 2021 atau meningkat sebesar 12% yoy.

Berita Terkait