Bank Dunia Perkirakan Kerusakan Fisik Ukraina Akibat Serangan Rusia Capai Rp865 Triliun

22 April 2022 19:19 WIB

Penulis: Fadel Surur

Editor: Rizky C. Septania

Kerusakan fisik yang dialami Ukraina nilainya semakin meningkat akibat invasi oleh Rusia yang beleum menunjukkan tanda berhenti. (Reuters)

WASHINGTON - Kerusakan fisik pada bangunan dan infrastruktur di Ukraina akibat invasi Rusia terus meningkat seiring perang yang belum mereda.

Presiden Bank Dunia, David Malpass, melaporkan bahwa kerugian fisik di Ukraina mencapai US$60 miliar atau setara Rp865 Triliun (asumsi kurs Rp14.428,90 per dolar AS) pada Kamis, 21 April lalu, seperti dikutip TrenAsia.com dari Reuters.

Pada konferensi Bank Dunia, Malpass menyampaikan bahwa perkiraan awal bantuan keuangan Ukraina belum termasuk biaya ekonomi yang meningkat akibat perang.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy, dalam pidato virtual di konferensi tersebut, menguraikan biaya dan kebutuhan pembiayaan yang jauh lebih besar. 

Biaya yang dibutuhkan Ukraina ditafsirkan mencapai US$7 miliar atau kisaran Rp100 triliun per bulan untuk menebus kerugian ekonomi yang disebabkan oleh invasi Rusia ke negaranya.

Ia juga mengatakan bahwa komunitas global perlu segera mengeluarkan Rusia dari lembaga keuangan internasional, termasuk Bank Dunia dan IMF. 

Menurutnya, semua negara harus bersiap untuk memutus hubungan dengan Rusia.

Zelenskiy meminta negara-negara yang telah memberlakukan sanksi dan membekukan aset Rusia untuk membantu pembangunan Ukraina kembali setelah perang. 

Konferensi ini diadakan di sela-sela pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia termasuk pejabat keuangan dari sejumlah negara, termasuk Menteri Keuangan AS, Janet Yellen.

Pada konferensi pers, Yellen mengatakan Rusia harus menanggung sebagian dari biaya pembangunan kembali Ukraina.

"Jelas bahwa biaya pembangunan kembali di Ukraina akan sangat besar pada akhirnya," kata Yellen.

Ia juga memperingatkan bahwa penggunaan cadangan bank sentral Rusia yang disita di AS untuk membantu Ukraina bisa dipertimbangkan. Namun, langkah itu tetap harus melewati diskusi dan kesepakatan dengan mitra internasional.

Sementara itu, Perdana Menteri Ukraina, Denys Shmyhal mengatakan PDB Ukraina bisa turun 30% hingga 50%, dengan kerugian langsung dan tidak langsung mencapai US$560 miliar atau setara Rp8 kuadriliun sejauh ini. 

Jumlah itu lebih dari tiga kali ukuran ekonomi Ukraina tahun 2020 yaitu US$155,5 miliar atau setara Rp2,2 kuadriliun menurut data Bank Dunia.

"Jika kita tidak menghentikan perang ini bersama-sama, kerugian akan meningkat secara dramatis," kata Shmyhal.

Ia menambahkan bahwa Ukraina akan membutuhkan rencana pembangunan kembali yang serupa dengan Rencana Marshall pasca-Perang Dunia Kedua yang membantu membangun kembali Eropa yang dilanda perang.

Berita Terkait