Bank Capital Optimistis Kejar Modal Inti Minimum Rp2 Triliun Tahun Ini

09 Agustus 2021 14:24 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Kantor Bank Capital dan asuransi Capital Life di Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meningkatkan modal inti minimum bank menjadi Rp2 triliun berimplikasi pada derasnya aksi korporasi bank mini. PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) yang saat ini memiliki modal inti Rp1,5 triliun pun berusaha mempertebal dana dengan melakukan right issue.

Direktur Utama (Dirut) Bank Capital Wahyu Aji mengatakan tinggal selangkah lagi right issue dilakukan. Menurut rencana, BACA bakal melepas paling banyak 20 miliar lembar saham baru dengan nominal Rp100.

Kendati demikian, Wahyu belum bisa membeberkan harga pelaksanaan dari right issue tersebut. Modal inti dari BACA sebenarnya sudah mengalami peningkatan tipis dari semester I-2020 yang sebesar Rp1,39 triliun. 

“Kami optimistis bisa memenuhi minimal modal inti dari OJK. Saat ini pelaksanaan right issue masih ditinjau di KAP (kantor akuntan publik) dan bakal dibahas di RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham),” ujar Wahyu saat dihubungi TrenAsia.com, Senin, 9 Agustus 2021.

Wahyu juga menyebut ketentuan baru OJK ini berimplikasi pada penguatan modal di industri perbankan. Meski begitu, Bank Capital masih harus bekerja keras memenuhi modal inti minimum yang naik menjadi Rp3 triliun pada 2022.

“Di tahun depan pun kami optimis bisa memenuhi ketentuan baru tersebut,” kata Wahyu.

Di sisi lain, BACA tengah menghadapi tekanan pada fungsi intermediasi bank. penyaluran kredit perseroan pada akhir Juni 2021 tercatat melemah 34,01% year to date (ytd) menjadi Rp4,20 triliun dari semula Rp6,38 triliun pada akhir 2020.

Tidak hanya itu, Liabilitas BACA juga naik menjadi Rp22,12 triliun pada Juni 2021 dari posisi Desember 2020 sebesar Rp18,58 triliun. Sedangkan, ekuitas turun tipis menjadi Rp1,62 triliun per 30 Juni 2021 dari Rp1,64 triliun pada 31 Desember 2020.

Adapun total aset perseroan naik 17,47% ytd menjadi Rp23,75 triliun dari akhir 2020 sebesar Rp20,22 triliun. Kinerja ini praktis membuat laba bersih BACA anjlok 77,68% secara tahunan (year on year/yoy).

Laba bersih BACA terjun bebas dari Rp51,98 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp11,60 miliar pada semester I-2021.

Penyaluran kredit yang lesu dan menyusutnya pendapatan bunga semakin membuat kinerja keuangan BACA babak belur. Pendapatan bunga BACA anjlok 40,45% menjadi Rp460,42 miliar dari periode yang sama di tahun lalu Rp773,23 miliar.

Berita Terkait