Bandingkan Biaya Tempuh Mobil Listrik Versus BBM, Siapa Paling Hemat?

17 November 2021 11:06 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

Bandingkan Biaya Tempuh Mobil Listrik Versus BBM, Siapa Paling Hemat? Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (Trenasia.com)

JAKARTA -- Indonesia segera menyongsong kehadiran mobil listrik di tengah upaya pembatasan emisi karbon. Dalam sebuah uji coba baru-baru ini, disebutkan bahwa pengguna bisa hemat hingga Rp50.000 untuk jarak tempuh 72 kilometer (Km).

Wakil Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN Darmawan Prasodjo mengatakan uji coba mobil listrik dilaksanakan pekan lalu oleh sejumlah direksi PLN. 

Hasil uji coba membuktikan bahwa mobil listrik bisa menekan pengeluaran pengendara ketimbang menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

Dia menyebut, dalam uji coba tersebut mobil listrik dikendarai hingga jarak 72 Km. Dalam jarak tempuh tersebut, daya yang dihabiskan sekitar 1 kiloWatt/jam (kWh) untuk 10 Km.

Jika dikalkulasikan, pengendara mobil listrik hanya perlu merogoh kocek Rp10.000 saja untuk menempuh jarak 72 Km tersebut.

"Hitungannya kan 1 kWh itu bisa dapat 10 kilometer ya. Tadi kita sudah jajal 72 km. Artinya, pelanggan hanya perlu Rp10.000 untuk menempuh 72 kilometer," katanya dikutip dari keterangan resmi, Rabu, 17 November 2021.

Dia menjelaskan, kalau dibandingkan dengan bahan bakar minyak (BBM), maka dengan jarak tempuh 72 kilometer, masyarakat harus merogoh kocek sekitar Rp60.000 dengan asumsi harga BBM, Rp9.000 per liter. Artinya, mobil listrik telah menghemat sekitar Rp50.000 per 72 Km.

Darmawan pun menilai penggunaan mobil listrik banyak membawa manfaat jika dilakukan secara masif. Pertama, kata dia, cita-cita negara untuk mengurangi emisi karbon bisa terasa lebih cepat.

Dia menjabarkan, bensin memiliki berat jenis sekitar 0,8, sehingga 1 liter bensin beratnya 800 gram. Kandungan karbonnya 90 sekian persen, tetapi bukan berarti total karbon yang dihasilkan 700 sekian gram.

"Ada namanya oksidasi karena kalau mobil internal combustion engine. 1 mol karbon ditambah 2 mol oksigen, coba hitung dari periodic table oksigennya butuh 1,6 Kg, jadi ada 2,4 kg emisi CO2 untuk 1 liter bensin," paparnya.

Sementara, lanjut dia, mobil listrik per kWh listrik PLN hanya menghasilkan emisi karbon sebanyak 0,85 kilogram saja.

"Artinya penggunaan mobil listrik lebih ramah lingkungan kan," imbuhnya.

Tekan Impor BBM

Karyawan melayani konsumen yang bertanya mengenai pembiayaan pembelian mobil listrik di stan Mandiri Tunas Finance di Jakarta, Selasa, 23 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Darmawan menambahkan, penggunaan mobil listrik juga bahkan bisa mengurangi beban impor minyak mentah.

Saat ini, kata dia kebutuhan BBM per hari mencapai 1,3 juta hingga 1,5 juta barel per hari. Sementara, produksi minyak nasional hanya 700.000 barel per hari.

"Belum lagi, semakin hari kebutuhan BBM akan semakin meningkat. Padahal, produksi minyak kita tidak bisa pungkiri terus mengalami penurunan alamiah (natural decline). Artinya, beban impor akan lebih besar," ujar Darmawan.

Menurut dia, dengan menggunakan mobil listrik pemerintah bisa mengurangi beban Current Account Deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan yang terus tergerus dengan impor minyak mentah.

"Tingginya angka impor ini berdampak pada pengurangan pertumbuhan ekonomi kita. Maka, dengan penggunaan mobil listrik selain bisa menyeimbangkan CAD juga bisa mendorong pertumbuhan perekonomian kita," terang Darmawan.

Untuk diketahui bahwa saat ini sudah ada 47 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang beroperasi di seluruh Indonesia. Hingga akhir tahun nanti, akan ada 67 unit SPKLU yang beroperasi.

Selain itu, PLN juga menghadirkan produk Home Charging Services yang disiapkan untuk memberikan kemudahan bagi konsumen dalam mendapatkan fasilitas dan layanan pendukung dalam penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB).

Produk Home Charging Services merupakan produk layanan satu pintu bagi pelanggan yang melakukan transaksi pembelian KBLBB di penyedia KBLBB yang bekerja sama dengan PLN.

Adapun keuntungan yang didapat dari fasilitas tersebut adalah, layanan tambah daya listrik, sehingga konsumen pemilik mobil listrik tidak perlu ragu akan kecukupan daya listrik di rumahnya.

Berikutnya adalah peralatan home charger, layanan pemasangan home charger, integrasi home charger ke sistem PLN Charge.IN, di mana konsumen akan mendapatkan diskon tarif penggunaan home charger pada pukul 22.00-05.00 WIB sebesar 30%.

Hasil riset dari berbagai lembaga menunjukkan, pada 2020 penjualan mobil listrik naik 44%. Hal ini berbanding terbalik dengan mobil konvensional yang justru penjualannya menurun hingga 14%.

Berdasarkan roadmap yang disusun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi jumlah kendaraan listrik di Indonesia pada 2030 mencapai 2,2 juta mobil listrik dan 13 juta motor listrik dengan 31.859 unit SPKLU.

Jumlah kendaraan listrik ini diharapkan bisa menekan impor BBM yang mencapai 6 juta kiloliter pada tahun 2030.*

Berita Terkait