Bali Sepi Bule Karena Pandemi, Ratusan Monyet Jarah Rumah Warga

09 September 2021 07:09 WIB

Penulis: Fadel Surur

Editor: Sukirno

Sekawanan monyet ekor panjang di salah satu tempat wisata di Bali

DENPASAR - Warga di Sangeh, Kabupaten Badung, Bali, mengatakan kera-kera ekor panjang berwarna abu-abu berkeliaran keluar dari cagar alam sekitar 500 meter jauhnya untuk nongkrong di atap dan menunggu saat yang tepat untuk turun dan mengambil makanan.

Karena khawatir serangan sporadis tersebut berubah menjadi serangan besar-besaran, warga memutuskan untuk mengumpulkan buah-buahan, kacang-kacangan, dan makanan lainnya ke Sangeh Mongkey Forest untuk mencoba menenangkan si primata.

“Kami takut monyet yang kelaparan akan menggila dan menjadi ganas,” kata seorang warga, Saskara Gustu Alit.

Sekitar 600 kera hidup di cagar alam hutan, berayun dari pohon pala yang tinggi dan melompat-lompat di sekitar Pura Bukit Sari yang terkenal dan dianggap keramat.

Biasanya kawasan hutan lindung yang terletak di tenggara pulau di Indonesia ini populer di kalangan warga lokal maupun internasional untuk foto pernikahan. Monyet-monyet yang relatif jinak tersebut dapat dengan mudah dibujuk untuk duduk di bahu atau pangkuan untuk mendapatkan beberapa kacang. 

Biasanya, sektor pariwisata adalah pendapatan utama bagi 4 juta penduduk Bali, yang menyambut lebih dari 5 juta turis asing alias bule setiap tahun sebelum pandemi.

Hutan Monyet Sangeh biasanya dikunjungi sekitar 6.000 pengunjung setiap bulan, tetapi sejak pandemi menyebar tahun lalu dan perjalanan internasional menurun drastis, jumlah itu turun menjadi sekitar 500 orang saja saban bulan.

Tidak ada yang datang sejak bulan Juli, saat Indonesia melarang turis asing ke pulau itu dan menutup tempat perlindungan sampai penduduk lokal. 

Manajer Operasional Sangeh Mongkey Forest Made Mohon mengatakan bukan hanya berarti tidak ada yang memberi tambahan makanan bagi para monyet, Mongkey Forest juga kehilangan pemasukan dari biaya masuk dan kehabisan uang untuk membeli makanan bagi para monyet.

Bantuan dari warga cukup membantu, tetapi mereka juga merasakan kesulitan ekonomi dan secara bertahap semakin sedikit memberi, katanya.

“Pandemi berkepanjangan ini di luar dugaan kami dan makanan bagi monyet-monyet menjadi masalah.” kata Made Mohon. 

Menurut Made, biaya makanan mencapai sekitar Rp850.000 per hari untuk 200 kilogram singkong, makanan pokok kera, dan 10 kilogram pisang.

Kera adalah hewan omnivora dan bisa makan berbagai macam hewan dan tumbuhan yang ada di hutan, tetapi mereka yang hidup di Hutan Monyet Sangeh telah cukup berkontak dengan manusia secara bertahun-tahun sehingga mereka tampaknya lebih memilih makanan lain.

Dan mereka tidak takut untuk bertindak sendiri, kata Gustu Alit. Seringkali, monyet-monyet berkeliaran di desa dan duduk di atap, kadang-kadang melepaskan genteng dan melemparnya. Ketika warga mengeluarkan makanan persembahan keagamaan setiap hari di teras, monyet-monyet itu melompat turun dan kabur. 

“Beberapa hari lalu saya menghadiri upacara adat di pura dekat hutan Sangeh,” kata Gustu Alit, “Saat saya memarkir mobil dan membawa dua tas plastik berisi makanan dan bunga sebagai persembahan, tiba-tiba dua monyet merampasnya dan kabur ke hutan.”

Biasanya monyet-monyet itu menghabiskan waktu berinteraksi dengan pengunjung – mencuri kacamata dan botol, menarik pakaian, melompat ke bahu – dan Gusut Alit berteori mereka bukan sekadar lapar, tetapi bosan.

“Itulah mengapa saya menganjurkan warga untuk datang ke hutan untuk bermain dan memberi makanan pada monyet,” katanya. “Menurut saya mereka butuh interaksi dengan manusia sesering mungkin agar mereka tidak menjadi liar

Berita Terkait