Bakal Disetop Xi Jinping, Ternyata 71 Persen Pembangkit Batu Bara di Indonesia Dibiayai China

27 September 2021 12:42 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Amirudin Zuhri

Produk Batu Bara milik PT Timah Tbk / Dok. PT Timah Tbk

JAKARTA – Pernyataan Xi Jinping yang akan menghentikan pembangunan pembangkit listrik bertenaga batu bara besar kemungkinan berdampak kepada Indonesia. Hal ini karena  sekitar 71% pembangkit listrik energi batu bara didukung China.

“China tidak akan membangun pembangkit listrik bertenaga batu bara baru di luar China,” ujar Xi Jinping dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, dikutip dari AFP, Selasa, 22 September 2021.

China memang menjadi salah satu penyumbang dana terbesar untuk proyek batu bara di negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia. Pembiayaan ini juga bagian dari skema pembangunan infrastruktur global Belt and Road Initiative.

Xi mengatakan China akan berusaha untuk mencapai puncak emisi karbon dioksida sebelum 2030 dan menjadi netral karbon sebelum 2060. 

“China akan meningkatkan dukungan untuk pengembangan energi hijau dan rendah karbon di negara-negara berkembang,” katanya.

Kontribusi China di Pembangkit Listrik Indonesia

Saat ini, sekitar 71% dari seluruh pembangkit listrik bertenaga batu bara di Indonesia didukung oleh pembiayaan dari China. Selain itu, ada lebih dari 30 pembangkit listrik dengan total kapasitas lebih dari 10 Gigawatt (GW) berada dalam fase pendanaan, prakonstruksi, atau baru tahap awal pembangunan.

Secara umum, China telah menggelontorkan dana investasi sekitar US$9,6 miliar dalam sektor energi di Indonesia sepanjang 2000-2019. Sebagian besar dari dana tersebut, US$9,3 miliar dihabiskan hanya untuk pembangkit listrik energi batu bara.

Associate Director Climate Policy Initiative Indonesia Tiza Mafira memandang berhentinya China membiayai proyek batu bara ini seharusnya jadi pendorong Indonesia untuk segera menghentikan investasi di batu bara.

“Komitmen Jepang, Korea, dan baru-baru ini Tiongkok untuk tidak lagi mendanai batu bara di luar negeri seharusnya menjadi tendangan pamungkas berakhirnya era batu bara,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Senin, 27 September 2021.

Tiza memandang Indonesia masih berupaya mempertahankan industri batu bara. Ini terlihat dari pemberian subsidi listrik yang berbasis batu bara, insentif untuk batu bara di paket Pemulihan Ekonomi Nasional, insentif hilirisasi batu bara, perpanjangan izin pertambangan batu bara, dan upaya mendorong clean coal technology.

“Semua pengeluaran anggaran negara tersebut akan sia-sia apabila tidak ada lagi yang mau berinvestasi di industri tersebut,” ujar Tiza.

 

Berita Terkait