Aturan SHSM Belum Terbit, GoTo Dikabarkan Gelar Pre-IPO dengan Potensi Pendanaan Hingga Rp28,92 Triliun

23 Agustus 2021 09:27 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Sukirno

Kolaborasi Gojek dan Tokopedia, GoTo

JAKARTA – Entitas hasil merger Gojek dan Tokopedia, GoTo dikabarkan bakal menggelar pre initial public offering (IPO) yang menargetkan pendanaan hingga US$2 miliar atau setara dengan Rp28,92 triliun (asumsi kurs Rp14.464 per dolar Amerika Serikat).

Melansir pemberitaan Reuters, Senin 23 Agustus 2021, pelaksanaan pre IPO ini menyusul belum terbitnya aturan terkait saham hak multipel (SHSM) atau multiple voting shrares (MVS) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebagaimana dikabarkan, GoTo menargetkan pelaksanaan IPO di Indonesia dan Amerika Serikat pada akhir tahun ini. Tak main-main, potensi valuasi dari aksi tersebut ditaksir mencapai US$40 miliar.

Hingga kini, pihak GoTo belum memberikan konfirmasi apapun terkait pelaksanaan pre IPO tersebut saat dihubungi TrenAsia.com.

Berdasarkan pernyataan beberapa waktu lalu, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna membenarkan kabar adanya dua unicorn yang akan melantai di bursa saham. Spesifiknya, ia menyebut dua unicorn tersebut sudah merger sehingga kini terhitung ada satu unicorn yang berada dalam antrean listing.

“Akan ada perusahaan unicorn lain yang menyusul Bukalapak (IPO). Sehingga dari sisi jumlah sebetulnya ada tiga, tetapi yang dua sudah bergabung menjadi satu," ungkapnya dalam sebuah konferensi pers virtual, Rabu, 28 Juli 2021.

Kabar tersebut diperkuat dengan bocornya dokumen IPO GoTo yang menyebutkan, raksasa tenologi tersebut akan IPO pada kuartal terakhir 2021 dengan skema dual listing, di Indonesia dan Amerika Serikat. Skemanya, IPO akan dilaksanakan terlebih dahulu di Indonesia, akan diselenggarakan di Wall Street.

Selain itu, Bloomberg turut melaporkan, GoTo tengah berdiskusi dengan para investornya untuk segera menyelenggarakan IPO dengan target pendanaan sebesar US$1 miliar - US$2 miliar atau setara dengan Rp14,5 triliun – Rp29 triliun (asumsi kurs Rp14.500 per dolar AS).

Berdasarkan data Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan HAM, GoTo di bawah payung PT Aplikasi Karya Anak Bangsa. Perusahaan ini disokong oleh sejumalh investor antara lain Temasek Holdings melalui Anderson Investment Pte Ltd dan Gamvest Pte Ltd (9,02%).

Kemudian, Google melalui Google Asia Pacific Pte Ltd dan Google International LLC (7,73%), PT Telekomunikasi Seluler (5,56%), KKR Go Investments (5,41%). Lalu, PT Astra International Tbk (ASII) (4,34%), WP Investments VI B.V (4,27%).

Selanjutnya, Taobao China Holding Ltd (4,12%), London Residential II SARL dan London Residential III SARL (4,08%), Tencent Mobility Legend (3,72%), dan Golden Signal Limited (3,69%).

Berita Terkait