Grup Astra Kantongi Permintaan Restrukturisasi Kredit Nasabah Rp30 Triliun

JAKARTA – Jasa keuangan PT Astra International Tbk (ASII) atau Grup Astra telah menerima permintaan restrukturisasi lebih dari 1 juta akun dan Rp30 triliun account receivable hingga Juli 2020. Pelonggaran tersebut diberikan atas pinjaman nasabah pada perusahaan pembiayaan mobil dan sepeda motor Astra.

Direktur Astra Suparno Djasmin mengungkapkan, saat ini pengajuan restrukturisasi sudah mulai melambat.

“Permintaan paling banyak terjadi pada bulan April dan Mei 2020, sedangkan pada Juli 2020, pengajuan sudah mulai menurun,” ujarnya dalam laporan hasil paparan publik kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip TrenAsia.com, Jumat, 28 Agustus 2020.

Menurutnya, banyaknya restrukturisasi utamanya disebabkan oleh pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Masyarakat menahan pembayaran angsuran karena banyak di antaranya yang sulit beraktivitas maupun bekerja.

Meskipun demikian, memasuki Juni 2020 saat PSBB sudah dilonggarkan, pihaknya melihat kemampuan nasabah sudah mulai pulih, baik terkait angsuran pembiayaan mobil maupun motor.

“Kami optimistis, penambahan restrukturisasi tidak akan banyak hingga akhir tahun 2020,” ujarnya.

Cicilan Mobil dan Motor

Dalam hal ini, Astra memberikan sejumlah pilihan restrukturisasi, seperti pemberian skip installment, perpanjangan tenor, dan partial payment atas pokok utang maupun bunga sesuai sesuai dengan kesepakatan customer.

Bisnis jasa keuangan sektor pembiayaan atau multifinance Astra terdiri dari Astra Credit Companies (ACC), Toyota Astra Finance (TAF), FIF Group, Surya Artha Nusantara Finance, dan Komatsu Astra Finance.

Suparno menambahkan, perseroan membutuhkan refinancing baik untuk pembiayaan baru maupun pembayaran kewajiban kepada bank dan bond holders. Hingga saat ini, lanjutnya, refinancing Astra tetap berjalan baik dengan komposisi terdiri dari bond, long term loan, dan pinjaman sindikasi dengan komposisi masing-masing 30%-35%.

Diketahui, pada semester I-2020, Astra mengalami penurunan pendapatan bersih konsolidasian sebesar 23% year-on-year (yoy) menjadi Rp89,8 triliun. Namun, laba bersih perseroan masih tumbuh 16% yoy menjadi Rp11,4 triliun pada periode ini. Termasuk dengan keuntungan penjualan saham di PT Bank Permata Tbk (BNLI). Di luar itu, laba bersih Astra tetap melorot 44% yoy menjadi Rp5,5 triliun.

Penurunan laba bersih terutama disebabkan oleh penurunan kinerja divisi otomotif sebesar 79% yoy. Kemudian, divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, serta energi turun sebesar 29% yoy. (SKO)

Tags:
AstraPandemi Covid-19PSBBPT Astra International Tbk.restrukturisasi kredit
Aprilia Ciptaning

Aprilia Ciptaning

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: