Aset Kripto Terra (LUNA) Anjlok hingga di Bawah Rp1, Ketua Aspakrindo: Hati-Hati

14 Mei 2022 09:03 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Fakhri Rezy

Ilustrasi aset kripto Terra (LUNA). Sumber: Blaze Trends. (Blaze Trends)

JAKARTA - Aset kripto Terra (LUNA) kini sudah jauh lebih lemah dibanding rupiah. Terkait kejatuhan LUNA, Ketua Asosiasi Pedagang Kripto Indonesia (Aspakrindo) Teguh Kurniawan Harmanda meminta investor untuk berhati-hati.

Mengacu Coin Market Cap, Jumat, 13 Mei 2022 pukul 19.57 WIB, Terra (LUNA) berada di level harga US$0,00002716 atau setara dengan Rp0,397 dalam asumsi kurs Rp14.619 perdolar Amerika Serikat (AS) dengan penurunan 99,91% dalam 24 jam terakhir. Saat ini, Terra (LUNA) berada di peringkat ke-233 dengan kapitalisasi pasar US$180,19 juta (Rp2,63 triliun).

Jika dihitung dari harga tertinggi LUNA pada 4 April 2022 di level US$119,18 (Rp1,74 juta), aset kripto ini sudah mengalami penurunan 99,99%.

Harmanda mengatakan bahwa pasar kripto memang sudah sewajarnya untuk diterpa siklus naik-turun. Oleh karena itu, para investor perlu menyikapi pasar kripto dengan tenang dan hati-hati.

Harmanda menyampaikan, sektor cryptocurrency adalah pasar baru sehingga pertumbuhan dan siklus bisa mengalami naik turun dengan pergerakan yang tajam.

"Pasar modal pun mengalami hal yang serupa. Inflasi pun relatif tetap mendekati level tertinggi. Tidak pernah ada tempat berlindung yang aman ketika badai sedang dalam kekuatan penuh,” ujar Harmanda dalam keterangannya, Jumat, 13 Mei 2022.

Aksi jual secara besar-besaran yang terjadi di pasar ketika LUNA sedang ambruk dinilai Harmanda sebagai sesuatu hal yang tidak dapat dihindari. Namun, kondisi ini tidak perlu disikapi dengan kepanikan.

Ketegangan Rusia-Ukraina, tekanan inflasi, masalah rantai pasokan, fluktuasi harga minyak, pertumbuhan ekonomi yang melambat di Cina, dan dampak pandemi COVID-19 juga menyebabkan kecemasan kepada para investor.

“Banyak aset telah naik cukup tinggi dalam beberapa bulan dan tahun terakhir, mungkin sampai-sampai mereka diperdagangkan lebih dari yang seharusnya. Saat situasi sangat tidak pasti seperti sekarang, volatilitas pasar selalu lebih tinggi,” papar Harmanda.

Harmanda pun memaparkan, industri kripto sebagai bagian dari ekosistem blockchain sedang mengalami pertumbuhan sehingga banyak inovasi yang hadir di industri ini. Inovasi adalah suatu hal yang wajar untuk menemui kegagalan, termasuk kegagalan stablecoin UST yang tidak berhasil menjaga stabilitas nilai tukarnya terhadap dolar AS.

“Drama yang terjadi saat ini sedang menguji stablecoin algoritmik untuk melihat apakah mereka berhasil atau gagal. Namun, ada banyak sisi baik dari stablecoin dengan konsep yang berbeda. Diharapkan para pengembang proyek kripto dapat menemukan inovasi mutakhir dalam waktu dekat melalui proyek-proyek baru,” ujar Harmanda. 

Berita Terkait