Aset Industri Keuangan Syariah Juli 2020 Naik 20,61 Persen Tembus Rp1.639 Triliun

22 September 2020 08:05 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Ilustrasi bank syariah / Unida.gontor.ac.id

JAKARTA – Total aset industri keuangan syariah mencapai Rp1.639 triliun per Juli 2020. Aset tersebut mencakup perbankan syariah, pasar modal syariah, dan industri keuangan syariah lainnya.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), secara nasional perbankan syariah mencatat aset Rp542,83 triliun dengan pangsa pasar 6,11%, sementara pasar modal syariah memiliki total aset lebih tinggi, yakni Rp985,96 triliun dengan pangsa pasar 17,8%.

Ketua OJK Wimboh Santoso mengatakan, secara keseluruhan jumlah aset tersebut meningkat sebesar 20,61% dengan pangsa pasar 9,68%.

“Aset keuangan syariah Indonesia terus tumbuh, naik sebesar 20,61 persen dengan market share 9,68 persen,” ujarnya dalam forum daring, Senin, 21 September 2020.

Menurutnya, kenaikan tersebut sejalan dengan keberadaan bank syariah saat ini sebanyak 14 Bank Umum Syariah (BUS), 20 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 162 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS).

Selain itu, per Juli 2020 lembaga jasa keuangan syariah nonbank, meliputi asuransi, pembiayaan, penjaminan, dan lembaga keuangan mikro syariah mencapai 215 lembaga. Adapun produk keuangannya, pasar modal memiliki 465 saham syariah, 145 sukuk korporasi, 282 reksadana syariah, dan 66 sukuk negara.

Karyawan melayani nasabah di Kantor Cabang Bank BNI Syariah di Jakarta, Rabu 17 Juni 2020. Wakil Presiden Ma’ruf Amin bersama jajaran pemerintah akan merancang strategi pemulihan ekonomi secara menyeluruh, termasuk ekonomi syariah dalam rangka memasuki tatanan baru new normal. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Indonesia Jawara

Wimboh mengungkapkan, hal itu berpotensi untuk mengembangkan keuangan syariah di Indonesia. Salah satu indikator dilihat dari skor Global Islamic Financial Report (GIFR) 81,93. Dalam hal ini, Indonesia menduduki peringkat pertama.

“Prestasi ini menumbuhkan optimisme untuk mewujudkan cita-cita sebagai hub keuangan syariah dunia,” katanya.

Selain itu, Global Muslim Travel Indext (GMTI) juga menyebut bahwa Indonesia merupakan destinasi wisata halal terbaik, mengungguli 130 destinasi lain di seluruh dunia. Hal ini disokong oleh jumlah penduduk muslim di Indonesia yang mencapai 229 juta atau 87% dari total penduduk.

Wimboh pun menambahkan, pihaknya mendukung pemerintah untuk menggabungkan atau merger bank syariah pelat merah. Menurutnya, rencana Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut dapat membentuk sinergitas bank syariah.

“Apabila digabung, bank syariah pelat merah dapat memiliki modal inti lebih dari Rp30 triliun,” katanya,

Dengan demikian, bank syariah tersebut bisa masuk kelompok Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) IV dengan daya saing dan kompetisi lebih kuat.

Sebagaimana diketahui, Menteri BUMN Erick Thohir berencana menggabungkan bank syariah pelat merah pada Februari tahun depan.

“Kami sedang mengkaji bank-bank syariah ini, nantinya coba kami merger menjadi satu,” ungkap Erick Thohir di Jakarta, Kamis, 2 Juli 2020.

Menurut dia, Indonesia memiliki pangsa pasar keuangan syariah yang besar. Sebab, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pangsa pasar keuangan syariah terhadap sistem keuangan di Indonesia per April 2020 mencapai 9,03%, naik dari posisi 2019 sebesar 8%.

Adapun bank-bank syariah milik emiten pelat merah antara lain Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, BRI Syariah, dan BTN Syariah. Masing-masing bank itu milik Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). (SKO)

Berita Terkait