Arus Peti Kemas Pelindo I Tumbuh 7 Persen Jadi 582.199 TEUs per Mei 2021

25 Juni 2021 21:33 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Pelabuhan yang dikelola oleh BUMN PT Pelabuhan Indonesia I (Persero).

JAKARTA – PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) atau Pelindo I pada Mei 2021 mencatatkan kenaikan 7% year on year (yoy) arus peti kemas. Vice President Public Relation Pelindo I Fiona Sari menyebut kinerja arus peti kemas di 16 pelabuhan kelolaan terdorong oleh membaiknya ekspor-impor Indonesia sejak awal tahun ini.

Arus peti kemas Pelindo I naik dari 540.461 twenty foot equivalent unit (TEUs) pada Mei 2020 menjadi 582.199 TEUs pada Mei 2021. Sementara itu, Pelindo I menargetkan keseluruhan arus peti kemas tahun ini menyentuh 1,57 juta TEUs atau naik 10% dibandingkan realisasi 2020 yang sebesar 1,42 juta TEUs.

Fiona merinci terminal peti kemas (TPK) yang paling pesat peningkatannya terjadi TPK Belawan, Kuala Tanjung Multipurpose Terminal, dan TPK Pekanbaru.

TPK Belawan pada Mei 2021 mencatatkan arus peti kemas sebesar 464.261 TEUs atau naik tipis 5,21% dibandingkan Mei 2020 yang hanya 441.257 TEUs.

Kinerja ini dinilai Fiona menjadi awal baik menuju penerapan National Logistic Ecosystem (NLE) di pelabuhan kelolaan Pelindo I.  Hingga kini, Pelindo I hanya memiliki TPK Belawan yang sudah menerapkan sistem logistik nasional tersebut.

“Berbagai sistem pelayanan kepelabuhanan yang telah berjalan di masing-masing stakeholders kemudian disatukan dalam satu platform yang membuat proses kepelabuhanan menjadi lebih efisien, efektif, dan transparan,” kata Fiona dalam keterangan tertulis, Jumat, 25 Juni 2021.

General Manager TPK Belawan Yarham Harid menyebut penerapan NLE ini terbukti efektif mengurangi waktu bongkar muat. Dirinya berharap NLE bisa diterapkan di berbagai pelabuhan lainnya di Indonesia.

“Arus peti kemas di TPK Belawan terus menunjukkan tren yang positif, yang artinya terjadi peningkatan, baik itu di terminal domestik maupun internasional,” ungkap Yarham.

Penerapan NLE, kata Yarham, bisa memangkas biaya logistik dalam proses bongkar muat peti kemas. Bila diterapkan secara menyeluruh, dirinya optimistis biaya logistik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia bisa ditekan.

Seperti diketahui, biaya logistik terhadap PDB Indonesia saat ini mencapai 23,5%. Melalui NLE, pemerintah menyebut biaya logistik bisa ditekan  menjadi 17% PDB.

NLE sendiri memiliki fungsi untuk mengintegrasikan data kegiatan angkut logistik di jalur darat, udara, dan pelabuhan. NLE ini akan menghimpun data yang mencatat rencana kedatangan sarana pengangkut (RKSP) yang memuat barang niaga yang diangkut (outward manifest) atau didatangkan (inward manifest).

Ketentuan soal NLE tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 97/PMK.04/2020 tentang Perubahan Atas PMK Nomor 158/PMK.04/2017 tentang Tatalaksana Penyerahan Penyerahan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut. (LRD)

Berita Terkait