Arus Logistik Tumbuh 7 Persen, 8 Pelabuhan Siap Terapkan NLE

11 Juni 2021 18:05 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Kapal bersandar didekat crane bongkar maut peti kemas di dermaga Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin, 11 Januari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Arus logistik laut pada kuartal I-2021 mengalami pertumbuhan 7% year on year (yoy). Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menangkap kondisi itu sebagai sinyal pemulihan ekonomi.

Menurut Budi, transportasi laut yang semakin ramai ini sekaligus mengindikasikan arus logistik Indonesia semakin optimal, baik dari segi pelayanan mau pun tarif. Dirinya mengatakan bakal terus memperbaiki berbagai aspek yang masih menghambat arus logistik laut tersebut.

Kementerian Perhubungan terus berupaya menyelesaikan kinerja logistik laut yang masih belum optimal di beberapa aspek seperti kelangkaan container, dwelling time, kemacetan di area pelabuhan, dan masalah lain,” kata Budi dalam keterangan tertulis yang diterima Trenasia.com, Jumat, 11 Juni 2021.

Genjot NLE

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut pemerintah bakal memperluas penerapan ekosistem logistik nasional (National Logistic Ecosystem/NLE) demi menggenjot arus logistik.

NLE merupakan implementasi dari program tol laut yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2015. Pelaksanaan tol laut ini mengacu kepada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik untuk Angkutan Barang dari dan ke Daerah Tertinggal, Terluar, Terpencil, dan Perbatasan (3TP).

Sementara itu, Ketentuan soal NLE termaktub dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 97/PMK.04/2020 tentang Perubahan Atas PMK Nomor 158/PMK.04/2017 tentang Tatalaksana Penyerahan Penyerahan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut.

NLE berfungsi untuk mengintegrasikan data kegiatan angkut logistik di jalur darat, udara, dan pelabuhan. NLE ini akan menghimpun data yang mencatat rencana kedatangan sarana pengangkut (RKSP) yang memuat barang niaga yang diangkut (outward manifest) atau didatangkan (inward manifest).

NLE ini pertama kali diterapkan di Pelabuhan Batam pada Maret 2021. Program ini pun bakal diperluas Luhut ke delapan pelabuhan lain di berbagai wilayah Indonesia.

“Proyek percontohan NLE dapat ditemukan di Batam dan rencananya akan ada delapan pelabuhan lain yang ditargetkan selesai tahun ini,” kata Luhut dalam keterangan resmi, dikutip Jumat, 11 Juni 2021.

Luhut mengklaim NLE bisa menjadi solusi dari mahalnya biaya logistik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Program ini disebutnya bisa menurunkan biaya logistik dari 23,5% menjadi 17%.

Penurunan biaya logistik terhadap PDB ini membuat Indonesia selangkah mendekati tarif negara-negara tetangga. Biaya logistik per PDB di Malaysia, Thailand, dan Singapura masing-masing mencapai 13%, 15%, dan 8%.

Berita Terkait