Arcandra Tahar: PGN Bisa Pasok Kebutuhan LNG Dunia yang Terus Meningkat

22 April 2021 01:03 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Komisaris Perusahaan Gas Negara (PGN), Archandra Tahar. Foto: doc. TrenAsia

JAKARTA – Komisaris Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGN Arcandra Tahar mengungkapkan perusahaan ini memiliki posisi strategis dalam penyediaan energi yang ramah lingkungan dan efisien di dalam negeri.

Melalui penyediaan gas bumi yang sumbernya sangat besar, emiten bersandi PGAS ini dapat memasok kebutuhan Liquid Natural Gas (LNG) dengan jumlah besar ke pasar global.

Arcandra menyebutkan, kurang lebih 60-70% dari total produksi gas Indonesia yang sebanyak 7.000 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) digunakan untuk kebutuhan dalam negeri. Sementara itu, sisanya diekspor dalam bentuk LNG.

Seperti diketahui, Wood Mackenzie memperkirakan kebutuhan LNG mencapai 550 juta ton per tahun hingga 2030. Padahal, jumlah pasokan yang ditaksir di pasar hanya sebesar 450 juta ton per tahun.

Dengan adanya gap antara supply dan demand LNG ini, PGN disebut Arcandra dapat memainkan peran pentingnya untuk mengoptimalkan peluang tersebut.

“Sebagai perusahaan gas nasional, PGN ditantang untuk terus meningkatkan kapasitasnya baik dari aspek Sumber Daya Manusia (SDM), teknologi, dan finansial supaya mampu bersaing dengan perusahaan gas dunia lainnya,” ungkap Arcandra lewat akun Facebook Pribadi Arcandra Tahar, Rabu, 21 April 2021.

Wakil Menteri ESDM 2016-2019 ini juga menjelaskan, sebagai inisiator pembangunan infrastruktur yang mengelola lebih dari 80% jaringan gas bumi, kelolaan PGN saat ini baru sebanyak 900 MMSCFD atau 15% dari total produksi gas bumi Indonesia per tahun.

Maka, untuk meningkatkan pasokan dan penjualan gasnya, PGN dinilai dapat bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero) yang sudah memiliki banyak kontrak LNG di luar negeri.

“PGN dapat bekerja sama dengan Pertamina sebagai holding migas yang sudah memiliki komitmen kontrak-kontrak gas di luar negeri. Kita perlu PGN yang profesional, yang memiliki kompetensi untuk mengelola gas di dalam maupun di luar negeri,” terangnya.

Kurangi Impor LPG

Untuk memperkuat peran tersebut, Arcandra mengatakan ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, pemerintah mesti mengurangi impor LPG. Caranya dengan mengalihkan industri yang menggunakan LPG dengan LNG ataupun Compressed Natural Gas (CNG).

Kedua, PGN bisa memperluas penggunaan gas bumi bagi pembangkit listrik milik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.

Menurutnya, selama ini masih banyak pembangkit listrik PLN di pulau-pulau terluar yang menggunakan diesel. Apabila disinergikan, optimalisasi penggunaan gas bumi di pembangkit ini bisa mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.

Arcandra menambahkan, pembangunan infrastruktur merupakan kunci bagi PGN dalam memperluas pemanfaatan gas ke berbagai daerah di Indonesia.

Tidak saja dalam bentuk jaringan pipa, tetapi juga berupa infrastruktur regasifikasi yang memungkinkan LNG lebih mudah menjangkau pasar.

Penggunaan teknologi bisa menciptakan efisiensi infrastruktur sehingga konsumen akan mendapatkan harga gas yang terjangkau.

“Industri minyak dan gas (migas) yang penuh risiko membutuhkan peningkatan penguasaan teknologi. Selain itu, butuh pemahaman yang baik terhadap aspek komersialnya di Indonesia. Itu yang menjadi patokan PGN saat ini agar bisnis makin efisien dan kompetitif,” ungkapnya.

Hal ini terbukti pada tahun lalu, PGN berhasil memangkas biaya pembangunan pipa minyak ke Blok Rokan sepanjang 360 kilometer (km) di Riau hingga US$150 juta atau lebih dari Rp2,1 triliun (asumsi kurs Rp14.000 per dolar Amerika Serikat).

“Ini merupakan efisiensi terbesar yang pernah terjadi di PGN dalam proyek pembangunan infrastruktur migas,” katanya. (LRD)

Berita Terkait