Angkut 600.000 Unit Mobil, Ekspor Lewat Pelabuhan Patimban Ditarget Rp110 Triliun

JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai peran pelabuhan sangat penting dalam perdagangan internasional. Pasalnya, pelabuhan merupakan pintu gerbang utama dalam proses bongkar muat ekspor dan impor, termasuk Pelabuhan Patimban yang akan diresmikan Presiden Joko Widodo.

Sekretaris Jenderal Kemenperin, Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, pelabuhan juga memberikan beragam manfaat bagi perekonomian pusat maupun daerah melalui peningkatan pajak dan pendapatan negara sebagai dampak meningkatnya konsumsi dan produksi.

”Kami berpendapat, Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang, Jawa Barat yang akan diluncurkan oleh Bapak Presiden Joko Widodo dalam waktu dekat, tentunya memiliki nilai yang sangat penting bagi pengembangan industri otomotif nasional,” ujarnya dalam keterangan pers, dikutip, Minggu 22 November 2020.

Sigit menjelaskan, Pelabuhan Patimban didedikasikan untuk menjadi hub besar dalam produksi kendaraan bermotor di Indonesia maupun ekspor produk otomotif ke pasar global.

Ia berharap, operasional pelabuhan tersebut dapat membangkitkan optimisme pelaku industri untuk meningkatkan aktivitas ekspor-impor.

”Kami mengajak seluruh pelaku industri otomotif baik pabrikan kendaraan bermotor, produsen komponen dan sparepart, sampai ke industri bahan baku untuk dapat menjadikan Pelabuhan Patimban sebagai mitra strategis dalam aktifitas bongkar muat barang untuk ekspor-impor sehingga pelabuhan ini dapat menjadi pusat perdagangan internasional,” paparnya.

Presiden Joko Widodo melepas ekspor perdana kendaraan niaga Isuzu Traga yang diproduksi oleh PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) di pabrik perakitan PT IAMI, Kawasan Industri Suryacipta, Karawang Timur pada Kamis, 12 Desember 2019. Presiden Jokowi menargetkan ekspor otomotif nasional mencapai 1 juta unit di tahun 2024. / Foto: BPMI Setpres
Potensi Industri Otomotif

Ia optimistis, keberadaan Pelabuhan Patimban bakal mendongkrak daya saing industri otomotif di Tanah Air. Apalagi, industri otomotif merupakan salah satu sektor andalan yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional.

“Saat ini, ada 19 perusahaan industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang ada di Indonesia dengan nilai investasi sebesar Rp93,22 triliun untuk kapasitas produksi sebesar 2,35 juta unit per tahun, dan menyerap tenaga kerja langsung sebesar 38.000 orang, serta lebih dari 1,5 juta orang yang bekerja di sepanjang rantai nilai industri tersebut,” ucapnya.

Selain itu, sambung Sigit, produk kendaraan bermotor produksi dalam negeri telah mampu menembus pasar ekspor ke lebih dari 80 negara di dunia. Pada Januari-September 2020, ekspor kendaraan CBU (completely build up) sebanyak 155.250 unit atau senilai Rp28,2 triliun.

Kemudian ekspor kendaraan CKD (completely knock down) sebanyak 34.720 set atau senilai Rp1,1 triliun, dan pengapalan komponen sebanyak 40,36 juta potong atau senilai Rp15,2 triliun.

Sedangkan dalam program Making Indonesia 4.0 yang diluncurkan oleh Presiden Jokowi pada 2018 lalu, sektor industri kendaraan bermotor nasional ditargetkan menjadi pemain global dan ekspor hub kendaraan bermotor. Baik untuk kendaraan berbasis bahan bakar minyak atau ICE (internal combustion engine) maupun kendaraan listrik.

Pemerintah juga menargetkan produksi kendaraan listrik pada tahun 2025 sebesar 20% dari total produksi nasional. Sebanyak 20% termasuk di dalamnya adalah hybrid vehicle, plug in hybrid vehicle, battery electric vehicle, dan fuel cell electric vehicle.

Target tersebut dinilai mendukung pencapaian target pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29%.

Tak hanya itu, pemerintah juga menargetkan menarik investasi di sektor industri komponen utama seperti baterai, motor listrik dan power control unit yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi sekaligus mendorong hilirisasi bahan baku baterai di Indonesia.

Indomobil adalah grup otomotif milik konglomerat Anthoni Salim. / Hino.co.id
Dongkrak Produktivitas Otomotif

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier menyebut, jasa pelayanan yang berada dalam ekosistem pelabuhan jadi faktor produktivitas otomotif.

Taufiek meyakini, optimalisasi Pelabuhan Patimban dapat meningkatkan produktivitas industri otomotif nasional.

Kelancaran arus perputaran dalam ekosistem pelabuhan akan menjadi bagian penting untuk memenuhi segala kebutuhan serta percepatan kegiatan di pabrik.

Demand di sektor otomotif berkaitan dengan kelancaran, kecepatan, hingga keamanan dari barang yang akan diekspor dan impor bahan baku. Sehingga, pengelolaan pelabuhan jadi nilai utama penunjang produktivitas,” paparnya.

Proyek infrastruktur Pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat. / Kppip.go.id

Manfaatkan AI

Taufiek berharap penguatan kegiatan Pelabuhan Patimban dapat dilakukan melalui aplikasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) pada setiap tahap aktivitas.

Mulai dari pengangkutan produk, pengiriman, custom clearance, hingga pre-inspection bisa terekam dengan teknologi canggih.

Menurutnya, hal ini akan menekan waktu tunda atau delay yang tidak perlu di wilayah pelabuhan.

Selain itu, pengelola Pelabuhan Patimban dapat menyiapkan tenaga terampil untuk mengurusi beragam kebutuhan dan pelayanan khusus bagi mobil yang akan dikirim ke negara lain.

“Artinya, pelabuhan menangkap semua kebutuhan yang ada di sektor otomotif secara optimal,” ungkapnya.

Suasana bongkar muat barang di Terminal Petikemas Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
Nilai Ekspor di Pelabuhan Patimban

Ia menambahkan, disahkannya Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan kehadiran Pelabuhan Patimban nantinya diyakini mampu mengerek investasi ke Indonesia. Salah satu hal yang dapat dimanfaatkan adalah adanya kelancaran arus barang dari mancanegara.

“Ini akan selaras dan memaksimalkan fungsi ekonomi yang ada. Sekali lagi, pengelola pelabuhan perlu betul-betul mengerti permintaan di sektor industri secara garis besar,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia berujar, terdapat enam perusahaan yang menyatakan akan mulai menggunakan Pelabuhan Patimban untuk kegiatan bisnisnya.

Sementara ada 600.000 unit mobil yang bakal diekspor melalui Pelabuhan Patimban hingga tahun 2025 mendatang.

Proyeksi total nilai ekspornya mencapai Rp110 triliun yang bisa dikapalkan melalui Pelabuhan Patimban.

Oleh karena itu, Taufiek menilai Pelabuhan Patimban harus mendukung sektor otomotif dengan mengedepankan konsep kecerdasan buatan. Sehingga, perlu persiapan matang sebelum pelabuhan ini benar-benar beroperasi. (SKO)

Tags:
Eksporekspor imporHeadlineindustriindustri otomotifinfrastrukturjawa baratkemenperinKementerian PerindustrianotomotifpatimbanPelabuhan PatimbanPenjualan Mobilsubang
Drean Muhyil Ihsan

Drean Muhyil Ihsan

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: